Renungan Berjalan bersama Tuhan

11 September

11 September

oleh: Pdt. Nathanael Channing

Roma 1:18-32

Apa yang terjadi dengan tanggal 11 September? Mungkin bagi kita tidak berarti apa-apa, kecuali memang ada yang berulang tahun pada tanggal itu. Namun, bagi orang-orang di Amerika Serikat dan bagi dunia, tanggal tersebut merupakan tanggal yang menjadi catatan sejarah yang sangat penting karena pada tanggal itu terjadi pengeboman yang sangat mengerikan di WTC. Dalam sekejap gedung yang menjulang ke langit dengan megahnya itu tiba-tiba runtuh, rata dengan tanah, bersama orang-orang yang masih bekerja di dalamnya. Sangat mengagetkan dan mengerikan. Seluruh dunia berkabung dengan peristiwa ini sekalipun ada pihak-pihak lain yang “tertawa” bangga karena berhasil meledakkan gedung itu. Kelompok teroris merasa sukses. Ketika gedung itu meledak, mereka bertepuk tangan. Sementara itu, di samping mereka terdapat banyak orang yang histeris meratapi anggota keluarga mereka yang ikut terkubur dalam reruntuhan bangunan itu. Bahkan pada bulan September di tahun berikutnya Bom Bali juga meledak dengan ratusan orang yang menjadi korban. Bulan September menjadi bulan yang mengerikan dan perlu diwaspadai. Rupanya bulan itu dijadikan bulan indah bagi teroris untuk melakukan aktivitas mereka. Terlepas dari masalah politik atau ketidakadilan sosial, yang jelas cara itu adalah cara yang ditolak oleh semua orang.

Mengapa bisa terjadi peristiwa demikian? Mengapa ada orang yang bersedia mati bunuh diri dengan bom yang dibawanya? Mengapa ada orang yang tidak dapat berpikir bahwa jika bom itu meledak, ia akan mati bersama orang-orang yang tidak tahu apa-apa? Apakah ia tidak tahu kalau yang dilakukannya itu merupakan pembunuhan massal yang juga tidak dibenarkan oleh agama apa pun? Atau mengapa mereka tidak dapat berpikir kritis ketika diindoktrinasi bahwa kematian yang demikian itu adalah kematian yang mulia? Apanya yang mulia? Nama mereka tidak akan dikenang sepanjang sejarah!

Dalam Roma 1:18 Paulus berkata, “Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” Betapa mengerikan tatkala dosa sudah berkuasa dalam hidup seseorang. Pada saat dosa menguasai manusia, ia sanggup melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Banyak “ketidaksadaran” yang dilakukan, misalnya orang yang melakukan bom bunuh diri. Meski tindakan ini tidak benar, tetapi masih banyak orang yang melakukan. Contoh lainnya adalah pembunuh bayaran. Hanya demi uang, ia rela menghabisi nyawa orang lain. Penyelesaian masalah dengan damai sudah tidak dapat dilakukan lagi seolah-olah membunuh menjadi jalan yang terbaik. Contoh lain lagi, misalnya narkoba. Memakai ataupun mengedarkan narkoba jelas tidak baik dan tidak benar karena dapat merusak tubuh. Namun, masih banyak orang yang menjadi pengedar dan pemakai. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kejahatan yang ada di dunia ini. Itulah orang-orang yang “menindas kebenaran” Allah. Kebenaran sudah tidak mendapatkan tempat dalam hati dan pikiran nalar manusia. Manusia sudah dibutakan sehingga kebenaran tak lagi bersuara dalam hatinya. Itulah kuasa dosa. Marilah kita benar-benar takut akan Tuhan. Biarlah hati kita dikuasai oleh kebenaran Allah dan Roh Kudus yang menuntun langkah-langkah kita. Siapa saja yang hidupnya dituntun oleh kebenaran firman Tuhan, ia akan menjadi orang yang berada dalam kebenaran itu. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *