Khotbah Perjanjian Lama

Manusia yang seringkali gagal menjalankan panggilan Allah (ayat 3-16) 

 

Penjelasan

Saudara, akhirnya Yunus memutuskan untuk lari dari panggilan Allah.  Pagi-pagi benar Yunus sudah di Yope, sebuah pelabuhan kecil yang sepi.  Yang ada dipikirannya hanyalah “Aku harus berlari sejauh mungkin.  Berapapun harganya akan kubayar.”  Saudara, orang-orang pada zaman itu percaya bahwa bumi itu seperti piringan datar, sehingga menurut mereka Tarsis yang terletak di Pantai Barat Spanyol adalah ujung bumi.  Dan wajar kalau mereka mengganggap Tarsis adalah ujung bumi, sementara untuk pergi ke Tarsis Yunus harus berlayar selama satu tahun.  Selain itu, arah Tarsis betul-betul berlawanan dengan Niniwe.  Ini merupakan bukti yang kuat bahwa Yunus betul-betul berniat lari dari Allah dan dari panggilan-Nya.  Yunus merasa dengan berlari pergi ke ‘ujung bumi,’ ia bisa lari dari panggilannya dan lari dari Allah.

Di tengah lautan yang luas untuk pergi ke ujung bumi Yunus merasa pelariannya berhasil.  Dia pikir Allah tidak mungkin bisa menemukannya.  Tapi tentunya Yunus salah.  Yunus tidak bisa dan tidak akan pernah bisa lari dari Allah, sekalipun itu ke ujung bumi.

Sementara Yunus tertidur di kabin kapal, Tuhan dengan sengaja melemparkan angin sehingga menyebabkan badai.  Laut bergejolak.  Para pelaut menjadi panik dan para awak kapal berteriak: “Ini tidak seperti biasanya! Ini tidak seperti biasanya!”  Saudara, biasanya para awak bisa meramalkan datangnya angin ribut, tetapi kali ini tidak.  Barang-barang dilempar.  Mereka berdoa kepada dewa-dewa mereka.  Tapi… nihil, situasinya terlalu serius untuk dipecahkan oleh doa mereka.  Dan tiba-tiba salah satu dari mereka berbicara, “Ini bukan badai biasa, pasti ada salah satu di antara kita yang menjadi penyebab badai.”  Akhirnya, mereka membuang undi untuk mencari tahu siapa orang itu.  Dan siapa yang kena undi? Tentu saja Yunus!

Mengetahui Yunus penyebab badai ini, mereka bertanya kepada Yunus, “Apa yang harus kami lakukan?”  Yunus terdiam lalu berkata, “lempar aku ke laut dan badai akan reda.”  Yunus tahu benar itulah satu-satunya cara untuk menghentikan amukan laut.  Tapi Saudara, apa yang para awak kapal lakukan?  Seolah tidak mau menyerah, mereka malah berusaha semakin keras mengosongkan muatan kapal demi menyelamatkan kapal tanpa mengorbankan Yunus.  Tapi apa daya, saudara.  Segala usaha sudah dilakukan dan hasilnya buntu.

Saudara, seharusnya Yunus belajar sesuatu dari kejadian ini.  Yunus seorang yang mengenal Allah gagal ketika diminta untuk membawa kabar keselamatan untuk orang-orang kafir Niniwe, sedangkan awak kapal yang tidak mengenal Allah bisa memperjuangkan keselamatan Yunus yang sudah menyebabkan nyawa mereka terancam.  Saudara, melalui tindakan para awak, seolah Allah ingin mengatakan bahwa Yunus seharusnya tidak lari dari panggilan-Nya.

 

Aplikasi

Saudara, sama seperti Yunus, kita seringkali lari dari Allah.  Kita lari ketika Allah meminta kita melayani orang-orang yang kita anggap jahat dan tidak pantas untuk menerima kasih-Nya.  Kita akan senang melayani orang-orang baik dan menyenangkan tapi kita akan lebih senang untuk lari jauh-jauh menghindari orang-orang yang pernah melukai dan berbuat jahat kepada kita.  Kita enggan untuk membuka mulut, menceritakan Juruselamat kepada mereka.

Saudara, mungkin secara tidak sadar kita bersikap seperti Yunus.  Kita gagal dalam memenuhi panggilan Tuhan untuk melakukan panggilan Allah.  Panggilan untuk melayani semua orang, termasuk melayani mereka yang kita anggap jahat dan tidak pantas menerima Kasih Allah.

 

Penutup

Saudara, suatu kali ada seorang pemuda Kristen yang rela menjadi sopir angkot demi membiayai kuliahnya. Menjadi seorang sopir angkot tidak semudah yang ia bayangkan.  Berulangkali ia bertemu dengan segerombolan anak berandal yang mengganggu penumpang lain dan lalu turun dari angkot tanpa mau membayar ongkos. Karena sangat menganggu, akhirnya pemuda ini melaporkan berandalan tersebut kepada polisi sehingga mereka mendapat sanksi.  Tentu saja hal ini membuat anak-anak berandal ini menjadi sangat marah. Beberapa waktu kemudian para berandalan itu menganiaya pemuda ini hingga terluka parah.

Saudara, pemuda ini begitu bergumul dengan rasa benciannya kepada para berandalan itu.  Akhirnya sang pemuda memutuskan untuk menuntut anak-anak berandal itu ke pengadilan.  Anak-anak ini diproses dan akhirnya masuk dalam sebuah persidangan.  Saudara, dalam ruang sidang itu, Tuhan mengubah hati sang pemuda.  Setelah vonis dibacakan, tiba-tiba sang pemuda berdiri dan meminta izin untuk berbicara, “Hakim yang saya hormati, ijinkan saya berbicara sebentar.” Pemuda ini berdiri dengan tenang dan lalu berkata, “Saya memohon kepada pengadilan agar saya diizinkan menggantikan anak-anak ini masuk kedalam kurungan.”  Seketika ruang persidangan menjadi ramai sehingga hakim memukul palu menenangkan ruangan.  “Anak muda, hal seperti ini tidak pernah terjadi.”  “Pernah hakim yang terhormat, hal ini pernah terjadi. Dua ribu tahun yang lalu Yesus pernah melakukan hal ini pada saya.”  Di persidangan itu sang pemuda menyaksikan tentang kasih Yesus.  Permintaan sang pemuda tentu ditolak.  Anak-anak berandalan tetap masuk penjara, tetapi sang pemuda setiap hari datang ke penjara dan melayani anak-anak ini.  Dan akhirnya semua anak-anak ini dimenangkan dan mengenal Tuhan.  Saudara, ketika pemuda ini bergumul dengan kebenciannya ia memilih untuk mentaati gerakan Roh Kudus untuk melayani orang-orang ini.

Saudara, adalah hal yang indah, ketika panggilan untuk melayani itu kita lakukan.  Panggilan untuk memberitakan kasih Tuhan kepada setiap orang, termasuk mereka orang-orang yang kita anggap tidak pantas menerimanya.  Ingatlah bahwa kita sudah terlebih dahulu menerima kasih dari Allah walau kita juga tidak pantas menerimanya.  Siapakah hari ini yang Allah tunjukkan kepada kita untuk kita layani?  Mari kita pergi dan menceritakan kasih Tuhan kepada mereka, bahkan sekalipun kepada mereka orang-orang rasanya tidak layak untuk dikasihi.  Benar, tidak mudah.  Tetapi jangan khawatir, Allah berjanji memberi kekuatan untuk kita bisa melakukannya.  Kasih-Nya yang teramat sangat besar di atas Salib akan memampukan kita untuk melakukanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *