Khotbah Perjanjian Baru

Jangan Menjadi Batu Sandungan bagi Saudaramu!

Konsep Batu Sandungan

 

Penguraian Paulus mengenai batu sandungan, menimbulkan pertanyaan, sebenarnya apakah yang dimaksud dengan “jangan menjadi batu sandungan”.  Hal ini dapat dibahas dengan lebih dalam lagi mengenai bagaimanakah posisi dari kaum lemah dan kaum kuat ini dan sejauh manakah peran mereka dalam bersikap di dalam suatu komunitas umat percaya.  Ketika salah satu pihak tidak menjalankan perannya dengan baik, melakukan perannya dengan berlebihan, atau tidak melakukan perannya sama sekali, kemungkinan telah menjadi batu sandungan itu cukup besar.

Perikop ini menegaskan bahwa orang-orang yang kuat imannya jangan membuat orang-orang yang lemah imannya menjadi semakin lemah.  Jelas, ayat 13 ditujukan kepada orang yang kuat imannya.[22] Pada ayat 13 ini, Paulus hendak menekankan mengenai penggunaan kata kri,nein (krinein) yang diterjemahkan sebagai kata “judge” dalam bahasa Inggris hendak memperkenalkan penjelasan berikutnya yaitu come to a decision yang berarti menegaskan atau mendorong untuk mengambil keputusan tersebut. Keputusan apa?  Yaitu keputusan untuk jangan membuat saudara lain jatuh.  Inilah yang ditekankan oleh Paulus agar mereka dapat hidup dengan rukun dan penuh kasih di dalam saudara seiman.[23]

Pemikiran teologi Paulus mengenai makanan dan kebebasan Kristen bukan hanya ada dalam perikop ini, melainkan ada juga dalam surat-suratnya yang lain.  Paulus menjelaskan mengenai makanan yang dipersembahkan kepada berhala (1Kor. 8:1-13), makanan yang halal dan membangun (1Kor. 6:12), dan tidak adanya makanan yang haram (1Tim. 4:4, 5).[24]  Bagi Paulus tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi kebebasan Kristen terhadap makanan, tidak ada yang haram.  Memang dalam masyarakat Yahudi zaman Perjanjian Baru peraturan tentang makanan ketat sekali, khususnya mengenai binatang dan burung yang haram yang dijelaskan dalam Perjanjian Lama (Im. 11:1-23; Ul. 14:4-20).  Namun, penghapusan tentang peraturan itu telah menjadi salah satu tema penting dalam Perjanjian Baru (Mark. 7:19-20; Rm. 14:1-23).[25]

Paulus mendorong agar kaum lemah berhenti mengkritik kaum kuat dan kaum kuat berhenti mencari kesalahan kaum lemah.[26]  Kadang-kadang kaum lemah melakukan sesuatu, karena setiap orang melakukannya, tidak ingin berbeda dengan orang lain, atau melakukannya karena tidak ingin dianggap rendah dan ketinggalan zaman.[27]  Kebebasan orang-orang kuat untuk menggunakan kemerdekaan dalam Kristus sebaiknya digunakan untuk membangun, agar mereka jangan jatuh dalam dosa, terlebih jangan sampai meninggalkan Kristus hanya karena soal makanan.[28]  Kebebasan Kristen adalah kebebasan yang didasarkan atas kasih.  Kasih yang mana Kristus telah nyatakan kepada semua orang, golongan, dan ras. Tanpa kasih, penerapan kebebasan Kristen akan berubah menjadi kekacauan semata, di mana setiap orang akan merasa sebebas-bebasnya melakukan atau makan sesuatu tanpa mempertimbangkan adanya tanggung jawab terhadap semua saudara seiman dalam jemaat.[29]  Paulus memanggil kita untuk taat dalam iman. Hal ini memang membuat kita menjadi bebas dalam melakukan aktifitas apapun tetapi tetap dalam kerangka ketaatan dalam iman.  Hal ini juga berarti bahwa kita dipanggil untuk terbuka dengan orang lain yang hidup berbeda dengan kita, tetapi dalam komunitas orang-orang yang telah dipanggil Allah dalam rencana-Nya, pembenaran-Nya, dan sambutan-Nya.[30]

Maksud Paulus yaitu kewajiban setiap orang Kristen adalah memikirkan segala sesuatu, tidak hanya yang bersangkut paut dan membawa akibat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain.  Paulus tidak bermaksud mengatakan, bahwa kita harus selalu membiarkan pandangan orang lain mengatur tingkah laku kita; karena ada hal-hal prinsipil yang harus ditentukan sendiri.  Tetapi ada banyak hal yang netral dan biasa; ada banyak hal yang sebenarnya tidak baik, juga tidak buruk; ada banyak hal yang tidak merupakan bagian penting dari kehidupan dan tingkah laku, melainkan hanya sekedar selingan hidup saja. Agustinus mengatakan, bahwa seluruh etika Kristen dapat diringkas dalam satu ucapan: “Kasihilah Allah, dan lakukanlah apa yang kamu suka.”  Dalam satu hal, itu adalah benar; tetapi kekristenan tidak hanya terdiri dari kasih kepada Allah; tetapi juga kasih kepada sesamanya seperti kepada diri sendiri.[31]

 

Implikasi dan Kesimpulan

 

Barclay mengutarakan ada tiga inti dari kekristenan yang prinsipnya tidak mementingkan diri sendiri.  Pertama, kebenaran, yaitu memberikan kepada manusia dan Allah apa yang menjadi haknya (memposisikan diri kita pada orang lain).  Kedua, damai yaitu segala sesuatu yang dilakukan demi kebutuhan utama dari manusia.  Ketiga, sukacita,yaitu sukacita yang bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk membahagiakan orang lain.[32]  Sekali lagi Paulus menegaskan bahwa Kerajaan Allah bukan bergantung pada makanan, minuman, atau jenis makanan tertentu.  Paulus hendak menyatakan bahwa yang terpenting ialah bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, bagaimana pandangan kita terhadap apa yang benar di hadapan Allah.[33]

Dengan demikian permasalahan kaum lemah dan kaum kuat yang ada di Roma ini, sebenarnya dapat diselesaikan jika kedua pihak mau saling menundukkan diri di bawah otoritas Allah.  Ketika setiap orang memiliki orientasi yang fokus kepada Kristus, maka setiap orang percaya dapat hidup rukun bersama.  Keduanya bukan saling menghakimi, menjatuhkan, atau saling menjadi batu sandungan, tetapi saling menjadi berkat satu sama lain.

Melihat tujuan orang Kristen yang adalah mengejar persekutuan yang berkenan di hadapan Allah dan manusia, sudah selayaknyalah orang-orang percaya melakukan hal demikian.  Kristus harus menjadi yang terutama, sedangkan makanan adalah second.[34]  Mengejar kasih lebih utama daripada pengetahuan, karena dengan kasih maka komunitas dapat dibangun.[35]  Karena itu, dengan menjadi batu sandungan, maka gereja yang adalah tubuh Kristus tidak akan dapat bertumbuh dengan baik.  Tetapi justru relasi yang terus saling membangun dan mendukunglah yang akan membuat gereja tersebut berkenan di hati Tuhan dan menjadi berkat bagi sekitarnya.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *