Renungan

Neraca Serong

Neraca Serong

 

Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat.

(Amsal 11:1)

 

Suatu kali saya antre membayar di sebuah toko yang ramai. Pemilik toko itu berulang kali berkata, “Ini sudah harga pokok. Saya jual rugi ini.” Jika ada yang menawar, maka jawaban yang sama meluncur: ini sudah harga pokok, saya jual rugi ini. Ketika saya tepat berada di depannya, wanita pemilik toko itu tampak terkejut, “Boksu, saya tidak tahu kalau Boksu ada di toko ini. Malu saya.”

 

Saya pun menyapanya sambil berkata, “Kasihan ya tante. Jual rugi terus. Bisa-bisa nanti tokonya tutup.” Tante itu tersenyum sambil berbisik, “Boksu, jangan dengarkan omongan saya kalau di toko. Pasti banyak bohongnya. Dengarkan saja kalau saya di gereja.”

 

“Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN” (Amsal 11:1). Ada sebuah praktik yang umum terjadi pada zaman penulis amsal hidup, dan juga mungkin terjadi di masa kini. Penjual menggunakan neraca serong yang akan mengutungkan dirinya sendiri, tetapi tentu saja merugikan pembeli. Tuhan membenci praktik seperti ini. Penggunaan neraca serong adalah salah satu bentuk penipuan, sama dengan penipuan lewat kata-kata.

 

“Tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat” (Amsal 11:1). Tuhan ternyata tidak hanya memedulikan hidup umat ketika mereka menyembah di  altar-Nya. Tuhan juga memerhatikan perilaku umat-Nya ketika mereka berbisnis  di pasar.

 

Biarlah kejujuran mewarnai perilaku kita. Jujur di hadapan altar dan di  tengah ramainya pasar.

(Wahyu Pramudya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *