Renungan

Diam Adalah Emas

Diam Adalah Emas

 

Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia.

(Amsal 26:4)

 

Suatu siang saya mengendarai motor perlahan-lahan dan memasuki pompa bensin. Tiba-tiba dari samping muncullah motor berkecepatan tinggi, langsung memotong antrean yang ada. Tak pelak motor itu pun membentur roda depan motor saya. Pengemudi itu turun dari motor, mengarahkan telunjuknya ke arah saya sambil berkata, “Lain kali hati-hati ya bawa motor. Motor Anda menabrak motor saya nih!”

 

Saya tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, tentu saya kesal dengan orang itu. Di sisi lain, sungguh saya prihatin dengan dirinya yang tidak sanggup jujur dengan realitas yang ada. Ketidakjujuran itulah yang membuatnya melakukan tindakan yang bodoh: mendakwa orang lain untuk kesalahannya sendiri. Apakah Anda mempunyai teman yang seperti ini?

 

“Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia” (Amsal 26:4). Sebuah peringatan untuk tidak menjawab atau tidak melanjutkan percakapan dengan orang bebal. Orang bebal tidak mau menerima realitas, dan terus mencari cara untuk menyalahkan orang lain. Tidak ada gunanya menjawab atau bercakap-cakap dengan orang bebal sebab apa pun yang kita katakan akan dibantahnya. Jika kita menjawab dan bahkan terus berbincang dengan orang bebal, lama kelamaan kita akan menjadi emosional dan akhirnya kata-kata kita juga akan menjadi tidak berkualitas.

 

Ketika berhadapan dengan orang bebal, yang hanya mengajak kita untuk bertengkar, maka diam adalah emas. Diam bukan berarti kita takut atau kalah, melainkan karena kita menjaga lidah kita agar tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak berkualitas dan tidak sama bebalnya seperti orang itu.

(Wahyu Pramudya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *