Renungan

Pembentukan Karakter

Pembentukan Karakter

 

Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

(Amsal 27:17)

 

Ada seorang pria yang pernah berdoa, “Tuhan, saya bukan orang yang sabar. Dalam ketidaksabaran, banyak masalah terjadi. Oleh karena itu, berilah saya kesabaran. Jangan terlalu lama Tuhan, berilah saya kesabaran sekarang juga!” Menurut Anda, apakah Tuhan akan mengabulkan doa pria itu? Dengan cara seperti apakah Tuhan akan memberikan kesabaran kepada pria ini?

 

Ada banyak cara Tuhan mengabulkan doa kita. Tuhan bisa saja bekerja dengan cara yang ajaib. Namun, dalam kaitan dengan karakter tertentu yang kita minta, seperti misalnya kesabaran, tampaknya Tuhan kerap kali bekerja dengan cara yang berbeda. Tuhan memakai proses interaksi antarmanusia dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17). Amsal ini menegaskan bahwa karakter manusia terbentuk di dalam relasinya dengan manusia lain. Seperti besi, dan hanya besi yang sanggup menajamkan besi; demikian pula manusia. Hanya manusia yang sanggup membentuk karakter manusia lainnya. Untuk itulah kita membutuhkan kehadiran guru, mentor, rekan sekerja, anggota keluarga, dan bahkan setiap orang yang berinteraksi dengan diri kita.

 

Proses pembentukan karakter melalui sesama manusia ini membutuhkan proses yang tidak mudah karena tidak terjadi di dalam kelas. Manusia membentuk karakter manusia lain lewat interaksi dalam hidup sehari-hari. Interaksi ini tidak selalu terjadi dalam keadaan yang baik, tetapi juga melalui konflik. Bukan hanya melalui tawa, tetapi juga melalui air mata.

 

Besi menajamkan besi. Manusia membentuk karakter manusia yang lain. Tidak ada karakter mulia yang terbentuk tanpa melalui proses interaksi antarmanusia. Jadi, bersyukurlah atas keberadaan setiap orang di sekitar karena melalui merekalah Tuhan membentuk karakter kita.

(Wahyu Pramudya)

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *