Khotbah Perjanjian Baru

Kekuatan dari Kelemahan (The Power of Weakness)

Kekuatan dari Kelemahan (The Power of Weakness)

2Korintus 12:1-10

Oleh: Andy Kirana

Di dalam dunia perfilman di Amerika Serikat, ada dua jenis penghargaan yang diberikan kepada para insan perfilmannya. Pertama adalah Piala Oscar yang diberikan sebagai sebuah penghargaan untuk film dan pemain terbaik. Kedua adalah Piala Razzie yang diberikan untuk film serta pemain terburuk. Pada tahun 2010 lalu, Sandra Bullock dinobatkan menjadi aktris pertama yang mendapatkan kedua piala itu. Pada hari Sabtu tanggal 6 Maret 2010 ia memperoleh Piala Razzie sebagai aktris terburuk dalam film komedi All About Steve. Sehari kemudian, ia meraih Piala Oscar sebagai aktris terbaik untuk peran dalam film The Blind Side. Sandra Bullock memajang kedua Piala itu berdampingan di rak yang sama di rumahnya. “Aku merasa lebih nyaman dengan kritik lebih daripada pujian, karena aku lebih akrab dengan yang satu ini, dan aku berteman dengan itu. Razzie sebuah penghormatan yang luar biasa,” katanya. Ia menganggap bahwa Piala Razzie sebagai pengingat agar tidak menyombongkan diri. Pencapaian sebuah prestasi memang patut untuk dirayakan. Namun jika tidak berhati-hati seseorang bisa jatuh pada kesombongan diri. “Ini mungkin berarti bahwa kedua penghargaan ini terjadi di saat yang bersamaan, supaya hidup saya seimbang” begitu ujar Sandra Bullock.

Demikian juga yang terjadi di dalam kehidupan dan pelayanan Paulus. Allah menyeimbangkan sisi kekuatan dan kelemahan dalam dirinya. Bahkan dalam kasih karunia-Nya yang cukup, Allah menjadikan kelemahan Paulus menjadi kekuatannya. Proses itu dilalui oleh Paulus melalui tiga pengalaman rohaninya yang penuh kuasa dari Allah.

Pertama, kuasa kemuliaan (2Kor. 12:1-6)

Allah menghormati Paulus dengan membawanya ke sorga, kemudian mengembalikannya lagi ke bumi. Begitu menakjubkannya pengalaman itu sehingga Paulus tidak begitu yakin apakah Allah membawanya secara fisik ke sorga ataukah hanya rohnya saja; Allah yang mengetahuinya. Di sini Paulus menegaskan realitas sorga dan kemampuan Allah untuk membawa orang ke sana. “Tingkat yang ketiga dari sorga” (ayat 2) sama dengan “Firdaus” (ayat 4), bagian sorga di mana Allah bersemayam dan menyatakan kemuliaan-Nya dengan sepenuhnya. Allah menghormatinya lebih jauh lagi dengan mengizinkannya mendengar “kata-kata yang tak terkatakan” (ayat 4) ketika ia berada di sorga. Ia juga mendengar apa yang tidak patut didengar, rahasia-rahasia ilahi yang hanya dikatakan di sorga. Hal-hal itu mungkin diucapkan oleh Allah dan oleh makhluk-makhluk sorgawi, tetapi tidak dapat diucapkan oleh manusia.

Musa yang sangat akrab dengan Allah, bertemu dengan Tuhan di puncak gunung; tetapi Paulus bertemu dengan Tuhan di Firdaus. Paulus telah melakukan disiplin rohani ini selama 14 tahun, ia tidak menceritakan pengalamannya itu kepada siapa pun. Tidak diragukan lagi bahwa penglihatan tentang kemuliaan Allah itu merupakan kuasa dan kekuatan yang menopang dalam kehidupan dan pelayanan Paulus. Di mana pun ia berada – dalam penjara, dalam kesulitan, dalam perjalanan yang berbahaya – ia tahu bahwa Allah menyertainya dan semuanya akan baik-baik saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *