Renungan Berjalan bersama Tuhan

Jalan Mana yang Aku Pilih

Jalan Mana yang Aku Pilih

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

“Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar” (Amsal 2:20). Orang tahu apa artinya jalan. Pertama, jalan menunjuk pada alamat. Misalnya ketika ditanya, “Di jalan mana rumahmu?” Ia akan menjawab, “Rumahku di jalan Bukit Hermon.” Dengan demikian, kalau mau datang ke rumahnya, kita dapat bertanya kepada orang di mana jalan Bukit Hermon itu. Orang akan memberitahu, misalnya silakan Bapak jalan lurus, nanti ada perempatan belok kiri, jalan lurus lagi, sampai bertemu dengan perempatan kedua, silakan Bapak belok kanan, jalan lurus sampai pertigaan, Bapak belok kiri, lalu lurus saja, itu sudah jalan Bukit Hermon. Dalam hal ini, jalan berarti petunjuk atau arah menuju tempat tinggal. Kedua, jalan berarti “nilai”, “value”, “makna” dari hidup seseorang. Misalnya ada yang mengatakan jalan hidup orang itu enak, lancar, diberkati Tuhan. Atau, sebaliknya, jalan hidup orang itu susah, penuh penderitaan, dan kesulitan. Ada orang yang jalan hidupnya lurus: artinya orang itu jujur, tidak berbelok-belok, tidak suka dengan orang yang tidak terus terang. Ada orang yang jalan hidupnya gelap: artinya ia mempunyai pengalaman hidup yang tidak menyenangkan, susah terus, tiap hari selalu dalam pertengkaran, kekerasan, kemabukan, perjudian, atau hidupnya tidak bisa diatur dan terus mengalami kesusahan. Dalam hal ini, jalan berarti gambaran hidup seseorang, keadaan, situasi, dan kondisinya.

Amsal mengatakan, “Tempuhlah jalan orang baik.” Ini sebuah nasihat kepada Israel agar dalam menempuh hidup di jalan orang baik. Di sisi lain, berarti ada jalan orang tidak baik, bukan? Ya, benar … Kita dapat menemui dalam hidup kita sehari-hari bahwa ada jalan orang baik dan jalan orang tidak baik. Jalan orang tidak baik berarti jalan hidup yang selalu merugikan orang lain; yang semata-mata mementingkan diri sendiri dan tidak memedulikan orang lain. Jalan hidup orang tidak baik hanya memuaskan hawa nafsu, karena menganggap bahwa hidup ini satu kali saja, setelah itu mati, maka hidup harus dipuas-puaskan, sekalipun merugikan orang lain. Sebalinya, jalan orang baik mendatangkan berkat bagi orang lain dan dirinya sendiri, membawa damai sejahtera bagi orang-orang yang ada di sekitarnya, penuh kasih sayang antara orang yang satu dengan orang yang lain. Jalan hidup yang baik itulah yang seharusnya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Amsal mengatakan “tempuhlah”, yang artinya jalanilah, lakukanlah, atau perbuatlah hidupmu itu dengan jalan yang baik. Bukan hanya perintah untuk menempuh jalan orang baik, tetapi juga “peliharalah”, yang artinya “jagalah setiap hari” di jalan orang benar. Mau berjalan di jalan orang benar? Dimulai dari kesediaan untuk memeriksa diri, apakah selama ini sudah berjalan di jalan orang baik atau tidak? Apakah selama ini sudah memelihara jalan orang benar atau tidak? Marilah kita menjalani hidup kita di jalan orang benar dan memeliharanya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *