Khotbah Perjanjian Baru

Kehidupan dari Perspektif Pengkhotbah dan Yesus Kristus

 

Kehidupan dari Perspektif Pengkhotbah dan Yesus Kristus (Pengkhotbah 8:14; Matius 10:16)

oleh : Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

  • Pengkhotbah 8:14 Ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi: ada orang-orang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar. Aku berkata: “Inipun sia-sia!”
  • Matius 10:16 “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

 

Di balik tindakan-tindakan manusia senantiasa terdapat keyakinan-keyakinan dasar yang me­la­tar­belakanginya. Keyakinan-keyakinan dasar itulah yang mendorong orang untuk melakukan atau ti­dak melakukan sesuatu. Ada contoh yang sederhana mengenai hal ini. Setahun yang lalu ketika saya baru sampai di Surabaya, Jawa Timur, saya bertanya kepada banyak orang, di manakah tempat yang terdekat bagi saya untuk membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Dari 10 orang yang saya tanya, 9 orang mengatakan bahwa tempat yang terdekat adalah Toko B. Kemudian saya bertanya lagi adakah tempat lain selain Toko B. Keluarlah beberapa nama lain: A, H, dan T. Akan tetapi, rata-rata orang-orang itu menganjurkan saya untuk pergi ke Toko B, dengan alasan toko itu lebih murah dibandingkan dengan toko-toko yang lain. Begitu membekasnya perkataan orang-orang tersebut sehingga tiap kali saya terpaksa berbelanja di Toko A, H, atau T, saya merasa sedikit menyesal karena harus keluar uang lebih banyak. Saya terus berpikir bahwa Toko B lebih murah. Pada akhirnya, saya sering berbelanja ke Toko B.

Di dalam kehidupan ini, mulai dari hal yang sederhana, seperti berbelanja, pilihan kita di­ten­tukan oleh keyakinan-keyakinan mendasar kita. Dari manakah kita mendapatkan kepercayaan-ke­per­ca­yaan dasar itu? Kita mendapatkannya dari orang lain dan dari pengalaman diri sendiri. Jadi, di balik setiap tindakan selalu ada keyakinan-keyakinan dasar yang membentuknya. Karena itu, amatlah penting bagi kita sebagai orang Kristen untuk mengingat bahwa bukan hanya perbuatan kita atau apa yang kita lakukan sepanjang tahun ini yang perlu kita perhatikan, tetapi juga keyakinan-keyakinan apa yang ada di balik tindakan kita.

Ketika sesorang melakukan suatu tindakan, kita dengan mudahnya menilai, “Oh, ia itu begitu, ka­rena ia memang seperti itu.” Atau, “Oh, ia itu begini karena nenek moyangnya juga kayak begitu.” Namun, kita lupa memberikan penilaian kepada sesuatu yang lebih dasar: mengapa ia melakukan tindakan itu? Keyakinan-keyakinan seperti apa yang mendorong perbuatan itu?

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat dan menguji apakah keyakinan dasar atau perspektif dasar kita tentang kehidupan ini selaras dengan apa yang diajarkan Tuhan melalui firman-Nya?

Kita yang mengaku sebagai orang Kristen perlu memeriksa bukan saja apakah perbuatan kita selaras dengan firman-Nya, tetapi juga apakah keyakinan-keyakinan dasar kita tentang kehidupan sesuai dengan firman-Nya? Ibarat kelompok paduan suara yang melantunkan nyanyian, maka kita berbicara terlebih dahulu tentang nada dasarnya. Pas atau tidak nada dasarnya? Kalau terlalu tinggi nanti mencekik leher, kalau terlalu rendah pun sulit bernyanyi. Nah, apakah perspektif kita tentang kehidupan telah pas dengan firman Tuhan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *