Khotbah Natal, Khotbah Perjanjian Lama

Khotbah Natal: Hilang Harapan, Masa Depan Berantakan?

Hilang Harapan, Masa Depan Berantakan?

Yesaya 40:1-11

oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

 

Suatu kali, saya mendapatkan kejutan yang menyenangkan.  Saya memenangkan hadiah senilai 20 juta rupiah dari sebuah hypermarket. Di dalam surat pemberitahuan itu terlampir kupon dengan tulisan tangan saya yang jelek. Tidak mungkin dipalsukan. Selain itu, terlampir surat keterangan dari departemen sosial tentang penyelenggaraan undian itu, surat dari kepolisian yang disertai dengan berita acara yang mengonfirmasikan penyelenggaraan undian tersebut. Wah, harapan membubung tinggi. Segera terbayang untuk apa uang senilai 20 juta rupaih itu. Tiba-tiba hari saya terasa lebih indah. Saya merasa bahagia, apalagi istri saya. Harapan memang membuat hidup ini indah.

Harapan bukan saja membuat hidup kita indah, tetapi juga membuat kita bertahan hidup. Lebih dari sekadar makanan, minuman, dan pakaian, pengharapanlah yang menjadi bahan bakar kehidupan kita. Tanpa pengharapan, hidup kita seperti mobil yang kehabisan bensin. Mogok.

Kita bekerja keras, karena kita mengharapkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Kita membesarkan anak karena kita mempunyai pengharapan agar kelak ia menjadi anak yang baik. Kita pergi ke dokter ketika menderita sakit tertentu dengan harapan akan segera sembuh.

Tanpa pengharapan, kita tidak dapat menjalani kehidupan ini. Tanpa pengharapan, hidup kita menjadi apatis (tanpa semangat). Bila kita putus pengharapan, maka kehancuran hidup membayang. Jika pengharapan memegang peranan sentral dalam hidup kita, dan kita tidak dapat hidup tanpa pengharapan, maka dari manakah sumber pengharapan itu? Dari manakah kita mendapatkan sumber pengharapan? Itulah yang terpenting di dalam kehidupan kita.

 

Ketika Pengharapan Hilang

Ada orang yang berpikir bahwa pengharapan itu bersumber pada dirinya sendiri. Kalau saya bertanggung jawab dengan kehidupan ini, maka saya selalu punya dasar untuk berharap pada diri sendiri. Keyakinan inilah yang membuat orang terus mengupayakan yang terbaik dari dirinya. Jadi yang terpenting di dalam hidup ini adalah berjuang yang terbaik. Namun, bagaimana jika masalah yang muncul di dalam hidup ini justru berasal dari diri kita sendiri. Bukannya menjadi sumber pengharapan, kita malah bisa membuat kesalahan yang sangat fatal di dalam kehidupan ini.

Ada orang yang berpikir bahwa pengharapan itu bersumber pada kebaikan hati orang lain. Kalau saya terus menjaga hubungan dengan orang-orang tertentu, maka saya bisa berharap banyak dari mereka untuk hidup saya. Jadi yang terpenting di dalam hidup ini adalah relasi dengan orang lain. Namun, bagaimana jika masalah yang muncul di dalam hidup ini justru berasal dari orang lain yang selama ini kepadanya kita berharap. Bukannya menjadi sumber pengharapan, orang lain itu malah menjadi sumber masalah.

Ada yang berharap pada apa yang disebut nasib, sesuatu hal yang tidak jelas tentang apa yang diharapkan, sesuatu yang indah yang datang secara tiba-tiba, misalnya tiba-tiba mendapatkan hadiah, tiba-tiba naik pangkat, tiba-tiba sembuh dll. Berharap pada apakah kita pada nasib itu? Jika tidak jelas, bagaimana bisa menjadi sumber pengharapan?

Ada orang yang berpikir bahwa pengharapan itu bersumber pada Tuhan. Namun, ketika kita sadar bahwa masalah itu muncul karena pemberontakan kita kepada Tuhan, masih pantaskah kita berharap pada Tuhan. Bukankah ada keraguan yang menyelinap? Pantaskah kita berhadap kepada Tuhan di tengah begitu banyak dosa dan kesalahan kita.

Orang Israel sedang mengalami masalah besar. Mereka membutuhkan pengharapan untuk bertahan hidup. Masalah utamanya adalah kesalahan dan dosa mereka sendiri. Mereka berada di dalam pembuangan di Babel selama tujuh puluh tahun karena pemberontakan mereka terhadap Tuhan. Karena masalahnya terletak pada diri sendiri, maka mereka tidak dapat menjadikan diri mereka sebagai sumber pengharapan.

Bagaimana dengan bangsa-bangsa di sekitar mereka? Justru bangsa-bangsa itulah yang menjadi sumber masalah bagi orang Israel. Bangsa Babel yang terkenal kuat dan cakap berperang juga tidak dapat diandalkan karena justru bangsa inilah yang menawan orang Israel. Mereka tidak dapat berharap pada bangsa lain.

Berharap pada Tuhan? Masih pantaskah berharap kepada Tuhan jika masalah yang mereka alami adalah hasil pemberontakan mereka kepada Tuhan?

Ada saatnya di dalam kehidupan ini ketika kita tidak dapat mengharapkan diri kita dan orang lain sebagai sumber pengharapan kita karena di situlah justru sumber masalah kita. Tuhan pun terasa begitu jauh karena dosa dan pemberotantakan kita sendiri kepada-Nya. Dalam kondisi seperti itu, keputusasaan membayang. Kehancuran ada di depan mata.

 

Firman Tuhan Memberikan Harapan

Di tebing kehancuran kehidupan orang Israel, firman Tuhan datang melalui Nabi Yesaya. Firman Tuhan yang memberikan kekuatan untuk bertahan. Tuhan berfirman, “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan Tuhan dua kali lipat karena segala dosanya” (Yesaya 40:1-2).

Wow, inilah kabar baik yang puluhan tahun dinantikan. Tuhan memberikan pengharapan dan pelepasan. Murka Tuhan tidak untuk selama-lamanya. Ada saatnya Tuhan menghukum, tetapi ada pula saatnya kasih-Nya melimpah. Kasih dan kemurahan Tuhan-lah sumber pengharapan kekal di dalam kehidupan ini. Gambaran tentang kasih dan kemurahan Tuhan itu kita dapatkan di ayat 11, “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.”

Tuhan ternyata mengerti betapa dalamnya keputusasaan yang membayang ketika manusia tak lagi dapat berharap pada dirinya atau orang lain. Tuhan mengerti betapa ragunya manusia berharap kepada Tuhan tatkala manusia menyadari bahwa masalah yang ada justru muncul karena kesalahan dan dosanya sendiri.

Tuhan menerobos ketidakberdayaan manusia dengan kasih dan kemurahan-Nya. Kasih dan kemurahan Tuhan adalah sumber pengharapan yang kekal di tengah dunia yang mudah berubah ini.

Tugas kita adalah menyambut Tuhan Sang Sumber Pengharapan itu. Namun, dengan apa kita menyambutnya? Firman Tuhan melalui Nabi Yesaya berbunyi, “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!” Sebuah kalimat yang ribuan tahun kemudian didengungkan ulang oleh Yohanes Pembaptis. Suatu panggilan untuk bertobat.

Apa yang unik dari bagian ini? Pertama, ada kasih dan kemurahan Tuhan. Kedua, kasih dan kemurahan itu harus disambut dengan pertobatan. Bukankah ini hendak mengajarkan kepada kita bahwa kasih dan kemurahan Tuhan mendahului pertobatan kita? Artinya, kasih dan kemurahan itu bukan tanggapan Allah atas pertobatan kita, tetapi mendahului pertobatan kita. Jadi, konsepnya bukan demikian, “Ayo bertobatlah! Kalau sudah bertobat, ini terimalah kasih dan kemurahan-Ku,” melainkan, “Ini, terimalah kasih dan kemurahan-Ku. Maukah kamu bertobat?” Sebuah konsep yang diilustrasikan Yesus lewat kisah seorang bapa yang berlari menyambut anaknya yang hilang. Tanpa perlu ada interograsi: Kamu di mana, dengan siapa, semalam berbuat apa.

Bertobat bukan sekadar menyesal akibat dosa kita. Bertobat adalah setuju dengan Allah tentang hakikat sebuah perbuatan. Bertobat berarti kesediaan kita untuk mengakui bahwa kita tidak dapat menjalani kehidupan ini dengan kekuatan kita atau kekuatan relasi kita. Bertobat berarti setuju dengan Tuhan bahwa kehidupan ini harus dijalani bersama dengan Tuhan, Sang Sumber Pengharapan. Bertobat berarti menyakini bahwa Tuhan dapat selalu menjadi sumber pengharapan, sementara manusia, diri kita, dan orang lain,  kadang kala mengecewakan.

Oh ya bagaimana dengan uang 20 juta rupiah itu? Saya menyimpan surat pemberitahuan itu di meja kerja saya. Pagi harinya, minuman saya tumpah di atas kertas surat itu. Betapa cerobohnya saya. Namun, tunggu dulu! Mengapa tinta logo hypermarket tersebut bisa luntur terkena air putih? Wah … saya mulai curiga. Jangan-jangan .… Kisah selanjutnya Anda sudah dapat menebaknya. Semua surat yang ada itu palsu, kecuali kupon yang saya tandatangani. Saya tidak pernah mendapatkan 20 juta rupiah itu. Manusia bisa menawarkan  harapan kosong, bahkan mencoba menipu dengan menawarkan harapan. Namun, Tuhan tidak pernah mengecewakan.

Benarlah kata firman Tuhan, “Beginilah firman Tuhan: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!’” (Yeremia 17:5). Berharaplah kepada Tuhan karena Dia tidak akan pernah mengecewakan. Konkretkan pengharapan kepada Tuhan itu dengan mendekat kepada Tuhan sambil membawa pertobatan kita.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.