Khotbah Perjanjian Lama

Ada Waktu untuk Beraksi, Ada Waktu untuk ‘Just Wait and See’

Oleh: Maria Natalia

Rut 3:1-18

Familiarkah bapak ibu dengan lambang ini? (Tunjukkan di layar LCD, lambang “Google Map”). Zaman moderen seperti sekarang ini, tidak perlu lagi kuatir tersesat. Cukup nyalakan location di handphone lalu ketikkan alamat yang dituju. Lantas akan muncul di layar handphone kita seperti ini: (Tunjukkan di layar LCD tentang keadaan jalan yang dimuat di google map). Bukan hanya jalur mana yang akan kita lewati yang ditunjukkan di situ, tetapi ada estimasi waktu untuk sampai ke tempat tujuan, plus akan ditunjukkan kondisi jalannya, apakah macet, padat merayap ataukah lancar jaya. Lebih “ajaibnya” lagi untuk saya, kalau kita salah belok, Google Map akan segera mencarikan jalur alternatif ke tempat tujuan. Menyenangkan bukan?

Saya pun berandai-andai. Alangkah menyenangkannya bila dalam hidup ini, perjalanan hidup kita semudah dan semenyenangkan itu. Tinggal ketik: “Saya mau masa depan cerah.” Lalu muncul, jalannya bagaimana, bila macet ditunjukkan jalan alternatif, sudah tau di awal dan tahu apa yang harus dilakukan. Namun sayangnya, perjalanan hidup kita tidaklah semudah itu, bukan? Sebagai anak Tuhan pun kita diperhadapkan dengan realita yang sama dengan orang-orang lain di muka bumi ini. Kita bergumul akan masa depan kita ataupun keluarga kita.  Ada yang bergumul tentang pasangan hidup. Ada yang bergumul dengan keputusan yang akan berpengaruh dalam pekerjaan yang kita tekuni. Ada mungkin yang juga bergumul akan kesejahteraan di hari tua dan segala kekuatiran lainnya. Andai ada Life Map[1]-nya, bukankah kita akan jauh lebih mudah menjalaninya.

Sayangnya, bahkan status sebagai anak Tuhan pun tidak membuat kita diberi hak untuk tahu secara persis bagaimana perjalanan hidup kita. Susahkah? Penuh aral rintangankah? Sesusah apa? Apa yang perlu saya persiapkan? Di tengah segala ketidakpastian itu kita tetap ingin mencapai apa yang kita inginkan bukan? Sebagai anak Tuhan, hal yang penting bukan sekedar memeroleh hasil, tetapi bagaimana mencari kehendak Tuhan di dalam proses untuk mencapai hasil tersebut. Tuhan menghendaki anak-anak-Nya untuk berjalan bersama-Nya dengan iman dalam usaha untuk mencapai tujuan yang Ia tetapkan. Melalui firman Tuhan hari ini, kita akan belajar hal tersebut dari kisah Rut, Naomi dan Boas yang sudah mencapai babak 3 dalam serial kehidupan mereka yang tercatat di Alkitab.    

Trouble in The Bible: Waktu untuk Beraksi

Pernahkah BISS mendengar istilah “Mak Comblang”? Mak Comblang adalah ia yang “bertugas” untuk menjodohkan seseorang dengan seorang lainnya. Misalnya dahulu di kampus saya punya teman sebut saja namanya “Melati” dan “Udin.” Si Melati bercerita bahwa ia beberapa kali memimpikan Udin. Saya lihat Melati punya ketertarikan pada Udin, namun sayang karena berbeda tingkat, pertemuan dan komunikasi dengan Udin sangat minim. Melati merasa tidak mungkin dia bisa mengenal Udin. Saya lihat Udin seorang yang baik, beriman dan pintar, cocok sekali dengan Melati. Karena itu saya dengan diam-diam mulai meracik strategi untuk membuat Udin sebagai pria bisa maju duluan untuk mendekati Melati. Dulu saya sudah berada di luar kampus dan mereka berdua masih di dalam kampus. Saya menelfon Udin dan mulai membuat dia “memikirkan, menggumulkan, dan mendekati Melati.” Saya follow up terus dan senang karena singkatnya, Udin dan Melati berpacaran bahkan kemudian menikah beberapa tahun kemudian. Alangkah bahagianya! Demikianlah pula yang dilakukan oleh Naomi, sang “Mak Comblang” untuk Rut menantunya dan Boas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *