Renungan Berjalan bersama Tuhan

Aku Benci

Aku Benci

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

Amsal adalah orang yang diurapi Tuhan untuk menyatakan kebenaran dan kehendak-Nya. Maka, sering kali ia mengatakan isi hati Tuhan. Ia mengungkapkan bagaimana Tuhan membenci beberapa pola hidup manusia. Dikatakan, “Enam perkara ini yang dibenci Tuhan, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara” (Amsal 6:16-19).

Amsal dengan jelas mengatakan bahwa Tuhan benci kepada orang yang “matanya sombong”, berarti sorot mata itu mempunyai makna. Ada sorot mata yang marah, sadis, sinis, atau sorot mata yang mau belajar, punya rasa ingin tahu yang besar, atau sorot mata yang memelas, mohon belas kasihan, mendatangkan rasa cinta. Banyak makna mengenai sorot mata. Tuhan membenci sorot mata yang sombong karena pemiliknya merasa mampu, pandai, dan tidak membutuhkan Tuhan dalam hidupnya.

Tuhan juga membenci orang yang mempunyai lidah dusta. Amsal juga tahu apa artinya “lidah tidak bertulang”, yaitu lidah yang tidak jujur dan tidak polos, penuh fitnah yang menghancurkan, yang memutarbalikkan kebenaran. Itu semua bisa menimbulkan “penumpahan darah” bagi orang yang tidak bersalah. Juga akan muncul hati yang membuat rencana-rencana jahat dan akhirnya kaki melangkah menuju kejahatan. Tujuh sikap itulah yang dibenci oleh Tuhan. Apa yang dicatat oleh Amsal dapat kita lihat dalam satu rentetan yang berjalan dalam satu proses. Amsal memulai dengan “mata sombong”, yang berarti bahwa banyak masalah kehidupan manusia dimulai dari mata yang melihat.

Kita ingat Hawa dicobai Iblis melalui mata yang melihat. Dari mata turun ke hati, yang kemudian hati menginginkan menjadi seperti Allah. Sikap rakus dan serakah yang mau mengubah diri dari ciptaan menjadi Pencipta. Dari mata, ke hati, dan lalu diatur oleh pikiran atau rasio, dan kemudian kaki dan tangan melangkah, maka lahirlah kejahatan besar. Pemulihan diri dimulai dari sorot mata yang takut akan Tuhan. Sorot mata yang terus mencari dan menemukan kebenaran dan kehendak Tuhan. Sorot mata yang turun ke hati dan melahirkan belas kasihan untuk saling berbagi kasih Tuhan. Amin.

 

Pokok Doa:

  • Tuhan, tolonglah aku supaya mataku berfungsi dengan baik dan benar, bukan secara fisik saja, melainkan apa yang aku lihat dan aku cari melalui mata. Dunia yang glamour sangat menantang mata untuk melihat, menikmati, dan kemudian mengambil langkah untuk memenuhi kepuasan mata. Ampunilah aku kalau dalam hidup ini terus berusaha memenuhi tuntutan mata yang tidak terkontrol. Ajarlah aku untuk melihat yang benar, pantas, dan layak serta memberikan dampak yang baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
  • Tuhan, tolonglah kami sebagai gereja agar mampu menolong seluruh anggota jemaat untuk melihat yang benar. Bukan melihat hal-hal konsumtif untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan diri, melainkan mampu melihat seperti mata Tuhan Yesus yang melihat orang banyak, sehingga muncullah belas kasihan. Jadikan kami gereja yang memberikan belas kasihan, yang membawa jiwa-jiwa baru untuk mengalami kasih karunia Tuhan. Pimpinlah pelayanan Komisi Pekabaran Injil atau Departemen Misi, supaya mampu menjalankan peran untuk mengabarkan berita sukacita secara utuh dan menyeluruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *