Khotbah Perjanjian Lama

Aku Ingin Jadi Bintang

Aku Ingin Jadi Bintang

Kejadian 32:22-31

Oleh Danny A. Gamadhi

My Secret

Waktu aku kecil, aku sangat suka menghitung bintang di langit.  Setiap kali bepergian bersama ayah, aku pasti duduk di belakang dan menengadah.  Tangan kecilku menunjuk ke atas dan mulutku komat-kamit menghitung kerlap-kerlip berlian alam semesta di tengah gelapnya langit.  Aku selalu yakin bahwa suatu hari kelak, aku akan dapat menghitung semuanya.

Pepatah mengatakan, “Like father, like son,” tapi itu tidak terjadi padaku.  Kebiasaan menghitung bintang ini kuwarisi dari kakekku.  Konon, kakekku juga seorang penikmat pertunjukkan langit di malam hari yang kelam.  Semakin gelap malam itu, semakin antusias ia.  Ia pecinta bintang sama seperti aku.  Ia berbisik-bisik di tengah kegelapan malam seolah mengantar bintang-bintang itu untuk terlelap dalam pelukan jagat raya yang akbar.

Bintang memiliki makna yang penting bagiku.  Sejak kecil aku menyimpan rahasia besar yang diturunkan dari Allah kepada kakekku.  Bertahun-tahun aku menyimpan rahasia ini dan tidak membiarkan seorangpun tahu, tidak juga saudara kandungku.  Suatu malam, Allah menampakkan diri pada kakekku.  Ia membawa kakekku ke luar dan berkata, “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat, jika engkau dapat menghitungnya.”  Ketika kakekku masih terkagum-kagum atas keelokan alam semesta, Tuhan berfirman, “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu” (Kej. 15:5).  Bukan hanya itu, Tuhan juga berjanji pada kakekku bahwa Ia akan memberkati kakekku dan membuat namanya masyur (12:2).  Melalui keturunannya segala bangsa akan mendapat berkat.  Serta, keturunannya akan diberikan negri yang amat luas dan berlimpah-limpah sumber daya alam (15:18-20).

Kakekku telah meninggal ketika aku berumur 15 tahun, tapi janji ini terus diturunkan kepada ayahku dan setelahnya . . . .  Aku tidak yakin.  Tadi aku berkata bahwa aku menyimpan sebuah rahasia yang berkaitan dengan bintang.  Inilah rahasianya: ibuku pernah bercerita pengalamannya ketika ia mengandungku.  Ibu mengandung dua anak kembar yang bertolak-tolakan di dalam rahimnya.  Karena teknologi kedokteran belum secanggih hari ini, ibuku tahu bahwa ia terancam maut ketika akan melahirkan kami.  Ibupun berdoa pada Tuhan dan meminta petunjuk.  Lalu Tuhan berfirman kepadanya sebuah rahasia yang tidak pernah kuberitahukan kepada orang lain: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda” (25:23).  Tuhan berfirman pada ibu bahwa anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda!  Itu berarti anak yang mudalah yang akan menjadi pewaris janji Allah yang tak terbayangkan itu.  Janji tentang bintang adalah milik anak yang muda.  Akulah anak itu.

My Story

Perkenalkan nama saya adalah Yakub.  Mengapa kalian terlihat bingung?  Oh, aku tahu, kalian pasti berharap Yakub berbadan besar, gagah seperti pahlawan, berbulu, dan galak.  Kalau itu yang kalian cari, mungkin sebenarnya yang kalian maksud adalah kakakku, Esau.  Ia seorang pria sejati, badannya kekar dan berotot, tinggi, pemberani, menyukai tantangan, dan hmm.. gambaran pria yang jantan.  Tapi aku, seorang yang cerdas.  Meskipun kembar, kami sangat bertolak belakang.

Sejak muda, kakakku sudah jarang di rumah, ia pergi berhari-hari untuk berburu di hutan, pulang sebentar, dan kemudian pergi lagi.  Ia seperti seorang prajurit perang, ke mana-mana selalu membawa tombak, panah, dan pedang.  Tapi aku, aku menyukai keindahan, aku orang yang tenang, dan senang tinggal di rumah.  Aku mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di dalam rumah, juga mengatur budak-budak yang bekerja untuk ayahku.

Jika mau dikatakan, kakakku adalah seorang yang work hard, sedangkan aku, seorang yang work smart.  Sejak muda, ia pergi dan mengandalkan kekuatan fisiknya, tapi aku duduk dan mengatur rencana. Aku harus memutar otak untuk menyusun rencana yang sempurna, dan otakku tidak mengecewakan. Setiap kali aku menyusun rencana, tidak ada yang dapat menggagalkanku, tidak juga Tuhan.  Aku benci bergantung pada orang, itulah mengapa aku terus berjuang sendiri selama hidup, demi diriku dan keluargaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *