Renungan Berjalan bersama Tuhan

Aku Meratapi Hidupmu

Aku Meratapi Hidupmu

Mikha 1:8-16

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Ketika orang yang kita kasihi berada dalam penderitaan atau kesulitan, hati kita pasti akan langsung gelisah dan turut merasakan pedihnya keadaan itu. Demikian pula bila orang yang kita kasihi tidak hidup benar, kita pun akan mengalami kesusahan yang besar. Ibu Monika, ibu dari Bapak Augustinus, Bapa Gereja yang besar dalam sejarah gereja, merasakan bagaimana susahnya ketika anak yang dikasihinya itu hidup sembarangan. Sebelumnya, Augustinus adalah seorang pemuda yang mursal dan tidak ada seorang pun yang dapat mengendalikan hidupnya. Apa yang dilakukannya benar-benar membuat hati Ibu Monika hancur. Puluhan tahun sang ibu terus berdoa dan menangisi anak yang dikasihinya itu hingga suatu hari doanya dijawab oleh Tuhan. Anak yang dikasihinya itu bertobat dan Tuhan bahkan memakainya menjadi salah satu Bapa Gereja.

Demikian pula dengan hati seorang hamba Tuhan yang setia, Mikha. Hatinya begitu hancur ketika melihat orang-orang yang dikasihinya, yakni bangsa Israel, menjalani kehidupan yang “rusak”. Mereka meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala. Mereka menjalani kehidupan bebas tak terkendali, hubungan antarmasyarakat terlihat saling menyakiti, dan tidak ada kepekaan terhadap mereka yang lemah dan menderita. Dalam keadaan hancur hati, Mikha berkata, “Karena inilah aku hendak berkeluh kesah dan meratap, hendak berjalan dengan tidak berkasut dan telanjang, hendak melolong seperti serigala dan meraung seperti burung unta: sebab lukanya tidak dapat sembuh, sudah menjalar ke Yehuda, sudah sampai ke pintu gerbang bangsaku, ke Yerusalem!” (Mikha 1:8-9).

Peristiwa ini mengingatkan kita apakah kita mempunyai hati seperti Mikha. Di zaman ini banyak kehidupan masyarakat yang rusak. Pergaulan bebas sudah merambah ke seluruh aspek kehidupan kita. Generasi muda menghadapi tantangan yang berat di masa mendatang. Apa yang dapat kita kerjakan untuk menghadapi tantangan itu? Hati seperti Mikha sangat dibutuhkan. Hati yang peka terhadap lingkungan sekitar, hati yang tidak bisa tinggal diam ketika melihat orang-orang di sekitarnya tidak membutuhkan Tuhan, hati yang terus meratapi anak-anak Tuhan yang hidupnya bebas dan tidak memedulikan sesamanya lagi. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, tolonglah aku agar mempunyai hati yang peka terhadap lingkungan di mana aku berada. Jauhkanlah diriku dari hati yang terus menuntut lingkunganku memenuhi kebutuhannku. Ajarlah aku bersikap peka terhadap perubahan kehidupan sosial masyarakat yang menjurus ke gaya hidup yang acuh tak acuh, tidak peduli sesama, suka memperhitungkan untung rugi. Jadikan aku saluran berkat bagi mereka.
  2. Tuhan, tolonglah kami sebagai gereja agar dapat memperhatikan pelayanan ke luar, baik terhadap lingkungan di sekitar gereja atau terhadap lembaga-lembaga lainnya yang membutuhkan pengembangan pelayanan. Ampunilah kami jika selama ini masih terus memikirkan kebutuhan internal sehingga lupa bahwa panggilan gereja juga untuk menjadi saluran berkat di dunia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *