Renungan Berjalan bersama Tuhan

Aku Orang yang Berseru-seru

Aku Orang yang Berseru-seru

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Yohanes 1:19-28

Apa kesan kita ketika bertemu dengan orang yang berteriak-teriak di tengah jalan atau di lapangan? Kesan pertama pasti orang itu tidak beres! Ada kelainan jiwa. Namun, ada juga orang yang melihat orang seperti itu dan malah mencermati apa yang dikatakannya, benar atau tidak; apa yang diteriakkannya, apakah kata-kata yang dilontarkan itu nyambung atau tidak? Jika kata-kata yang diteriakkan itu mengandung kebenaran, mengapa kita tidak mau mendengarkan? Jika kata-kata yang dilontarkan menuntun kehidupan manusia, mengapa kita tidak mau menyimak dulu? Itulah yang terjadi pada Yohanes Pembaptis yang hadir di tengah masyarakat dengan teriakanya yang lantang. Apa yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis? “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya” (Yohanes 1:23). Teriakan itu mengatakan “Luruskanlah jalan Tuhan!”

Itulah yang membuat orang-orang pada waktu itu berdiri atau duduk mendengar apa yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis. Ia menyuarakan agar setiap orang yang sudah menjadi umat Allah meluruskan jalan hidupnya. Di dalam bagian yang lain, Yohanes Pembaptis menyebutkan tentang meratakan jalan yang bergelombang, yang menggambarkan bagaimana setiap orang harus memperhatikan cara hidupnya jika ada orang yang menjalani hidupnya dengan bergelombang, berliku-liku alias tidak lurus. Secara tidak langsung Yohanes mengingatkan bahwa manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa sangat mudah melakukan hal-hal yang sama dengan dunia ini.

Masalah ini dianggap serius oleh Yohanes Pembaptis karena kalau sikap hidup umat Tuhan sama dengan orang dunia seperti dalam hal menyembah berhala, melakukan kekerasan, hidup tidak bermoral, tidak jujur dalam bekerja, dan sejenisnya, maka hidup yang demikian itu jelas tidak benar, tidak seperti yang diharapkan ditemukan di dalam diri anak-anak Tuhan. Hidup yang terus mengembangkan kuasa dosa yang ada di dalam dirinya itulah yang harus diputuskan atau dipatahkan sehingga tidak dilakukan lagi. Hidup yang lama itu harus diganti dengan hidup baru.

Perkataan Yohanes Pembaptis di atas mengarah pada Tuhan Yesus yang telah datang ke dunia ini. Dia datang untuk menolong kita dan memampukan kita menjalani hidup yang lurus. Hidup yang lurus adalah hidup yang berjalan dalam kebenaran firman Tuhan, yang tidak sama dengan dunia ini. Kebenaran firman Tuhan itulah yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan yang telah mendapatkan kasih karunia Allah.  Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku untuk mau mendengarkan siapa pun yang menyatakan kebenaran firman Tuhan. Berilah telinga yang terus membuka diri untuk mendengar dan belajar firman Tuhan dengan baik. Ajarlah aku berubah dan benar-benar melakukan firman Tuhan dalam hidupku secara pribadi, entah di rumah, di pekerjaan di tengah rekan kerja, dan juga dalam pelayanan.
  2. Tuhan, pimpinlah para hamba Tuhan, berkatilah pelayanan mereka, dan jadikanlah mereka nabi-nabi di zaman ini yang berani menyuarakan kebenaran firman Tuhan, yang menegur dan mengingatkan supaya banyak orang bertobat dan takut akan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *