Renungan Berjalan bersama Tuhan

Aku Sakit Hati!

Aku Sakit Hati!

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh.” (Amsal 12:16)

Setiap orang pasti pernah mempunyai pengalaman yang menyakitkan hati. Hati bisa sakit karena berkaitan dengan perasaan. Sakit hati muncul saat perasaan terusik atau tersinggung karena harga diri yang direndahkan, diejek, diremehkan, dihina, dimaki, dipermalukan, tidak dihargai, tidak dipuja, tidak disanjung, dan sebagainya. Harga diri dan perasaan sangat berhubungan dan tidak dapat dipisahkan! Harga diri dan perasaan juga sangat bergantung dengan tingkat stres kita. Semakin kita mengalami stres, apalagi sampai depresi, harga diri dan perasaan menjadi sangat peka. Pasti orang yang demikian sangat mudah tersinggung. Bisa terjadi, saat orang lain hanya melihatnya, ia menjadi marah, atau ketika orang lain tersenyum, ia bisa tersinggung luar biasa, karena dianggap menghina. Hanya karena perkataan sepele, bisa terjadi pertengkaran yang sangat hebat. Bahkan yang sangat ironis, ketika bertemu dengan sahabat dan kerabat lama, kemudian terjadi percakapan yang menyenangkan saling bersenda gurau, eh tiba-tiba orang tersinggung dan marah besar sekali, sampai keluar kata-kata yang saling menyakiti.

Bukankah di sini menandakan betapa rapuhnya harga diri dan perasaan kita? Tepat sekali yang dikatakan oleh Amsal, “Bodohlah orang yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga.” Bagi Amsal, merupakan suatu kebodohan jika kita mengalami sakit hati, lalu sakit hati tersebut diungkapkan seketika itu juga. Pasti sakit hati itu diungkapkan dengan sikap dan cara yang emosional. Jika ini terjadi, pasti akan mengakibatkan pertengkaran. Saat pertengkaran terjadi, kata-katanya pasti saling menyakiti hati. Jika itu terjadi, Amsal mengatakan “bodohlah” yang artinya melakukan suatu tindakan bodoh, yang sia-sia dan tidak mendatangkan kebaikan.

Berbeda dengan orang yang bijak. Ia tidak melampiaskan rasa sakit hatinya saat itu juga, tetapi pada waktu yang lain. Ia akan mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan pengalaman sakit hatinya kepada orang yang menyakitinya. Bahkan saat dicemooh, ia bisa dengan tenang meninggalkan cemooh itu. Ia tidak menuruti, tetapi justru menenangkan hatinya yang sedang sakit. Ia mampu menguasai diri, menahan diri dari amarah yang muncul dalam hatinya. Harga diri dan perasaannya akan dinyatakan nanti pada saat yang tepat. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, tolonglah aku untuk mampu mengelola emosiku ketika menghadapi orang-orang yang menjengkelkan hati, atau yang sengaja mau mencobai aku. Mampukan aku juga saat dihadapkan dengan orang-orang yang sengaja mau merugikan aku, yang terkadang memancing gejolak emosi yang tidak terkontrol. Tuhan, ajar aku untuk tidak emosional dalam situasi yang demikian, tetapi bisa menahan dengan kepala dingin, dan mampu menyelesaikan pada waktu yang tepat. Dengan demikian, mereka bisa melihat bahwa aku adalah anak-anak Tuhan yang dipanggil menjadi saksi-Nya yang nyata.
  2. Tuhan, tolonglah kami sebagai gereja yang terkadang malah menjadi orang-orang yang tidak sabar. Atau, kami mempunyai dua muka, ketika di dalam gereja menjadi orang yang sabar dan penuh pengertian, tetapi saat di luar gereja bisa menjadi orang yang tidak sabar, emosional, mudah tersinggung, tidak mau mengalah atau menguatkan orang lain terlebih dahulu. Secara tidak langsung, kami sering menjadi batu sandungan bagi orang lain. Berikan kami kekuatan untuk jujur dengan diri, emosi, dan relasi kami. Tolonglah kami untuk terus menjadi orang yang dewasa di dalam Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *