Khotbah Perjanjian Lama

Allah Gunung Karmel, Allah Padang Gurun dan Allah Gunung Horeb

Allah Gunung Karmel, Allah Padang Gurun, dan Allah Gunung Horeb (1Raja 19:9-18)

oleh : Pdt. Joas Adiprasetya

 

  1. Hidup itu aneh. Kadang kita bisa begitu takut pada sesuatu yang bagi banyak orang tidak menakutkan, dan sebaliknya, berani pada sesuatu yang menakutkan orang lain. Ada kisah tentang empat perempuan dari empat generasi. Nah, perempuan dari generasi ketigalah yang menuturkan kisah ini:

 

  • “Nenekku, paling suka bepergian dengan menaiki kereta kuda, tapi paling takut jika harus naik mobil. Ibuku, ke mana-mana selalu naik mobil, namun tidak pernah mau naik pesawat bolang-baling. Aku sendiri, suka sekali naik pesawat bolang-baling, tapi ngeri rasanya kalau harus naik pesawat jet. Nah, anak gadisku, pekerjaannya membutuhkan dia untuk naik pesawat jet ke mana-mana dan dia menikmatinya, hanya saja, dia paling takut jika harus naik kereta kuda.”

 

  1. Atau juga kisah tentang seorang petinju yang amat berani melindungi pacarnya dari gangguan pemuda-pemuda iseng, berapa pun jumlahnya. Tapi jangan harap dia berani menyentuh seekor tikus. Malah mungkin dia akan naik ke meja jika bertemu seekor tikus. Dan gadis pacarnyalah yang tak berdaya menghadapi para pemuda iseng itu, yang mungkin dengan santai mengejar tikus menyebalkan itu.

 

Allah Gunung Karmel

 

  1. Dan sekarang lihatlah hidup seorang nabi bernama Elia. Dalam 18.20 dst, dikisahkan bagaiaman dengan begitu gagah, tanpa rasa takut, Elia melawan 450 nabi Baal di gunung Karmel. Tidak main-main. Ini urusan hidup-mati. Dan lebih dari itu, ini urusan Allah yang mana yang harus dipercayai oleh seluruh rakyat Israel. Dan Elia seorang diri mengalahkan 450 nabi Baal itu … Ay. 40 mengisahkan, ke-450 nabi Baal itu akhirnya disembelih. Tentulah, seandainya Elia yang kalah, maka tak bisa dibayangkan akan jadi apa dia? Elia … nabi yang gagah perkasa, pemberani, tak gentar menerjang maut, tak kuatir menghadapi musuh begitu banyak.

 

  1. Elia versi Gunung Karmel yang gagah perkasa itu sesungguhnya mewartakan atau mencerminkan Allah versi Gunung Karmel, yang mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan dahsyat dan ajaib. Allah semacam ini yang banyak dicari orang, yang membuat KKR Penyembuhan rohani selalu dipadati ribuan orang. Allah yang melampaui sakit-penyakit, mengatasi ketidakmungkinan alamiah, serta melewati daya jangkau rasionalitas manusia. Orang Kristen yang hanya menyukai gambaran Allah semacam ini sesungguhnya hanya menjadikan kekristenan sebagai sebuah spiritual Disneyland.

 

  1. Kuasa Allah yang supranatural kemudian ditekankan secara berlebihan, sehingga jika yang supranatural itu tidak terjadi dianggap Allah pun tidak hadir. Alhasil, orang Kristen dipaksa bisa berbahasa Roh, nubuat dibuat-buat padahal hanyalah lu-buat.

 

  • Ada kisah tentang seorang pendeta dari sebuah gereja yang sudah lama sepi dari hal-hal supranatural. Karena ingin menunjukkan kepada anggota jemaatnya bahwa Roh Kudus hadir dalam ibadah mereka, si pendeta berkata pada anaknya, “Nak, nanti waktu kebaktian kamu sembunyi di loteng atas gereja, di attic. Lalu ketika Papa berkotbah tentang Roh Kudus dan berteriak, ‘Roh Kudus turunlah!’ kamu lepaskan burung merpati ini. Anaknya yang masih berusia 10 tahun ini menurut saja. Dan benar, si anak ini bersembunyi di atas dan ayahnya mulai berkotbah. Si pendeta kemudian berkotbah dari Kisah Para Rasul 2, tentang para murid yang berkumpul di sebuah rumah dan ketika Roh Kudus mulai turun rumah itu terdengar gaduh. Tepat saat itu, ruangan loteng gereja juga terdengar gaduh, “gludak, gluduk.” Si pendeta berpikir, “Wah, anakku hebat, bisa berimprovisasi.” Kemudian tibalah saatnya si pendeta berteriak, “Roh Kudus turunlah!” Tidak terjadi apa-apa … “Roh Kudus turunlah!” Eh, sang merpati tidak keluar juga. Terakhir, dengan suara lebih keras peneta itu berteriak, “Roh Kudus, turunlah!” … Lalu muncullah … si anak itu dan berteriak, “Papa, Roh Kudusnya diterkam kucing!” Rupanya suara gludak-gluduk tadi adalah si anak yang mengejar kucing.

 

Allah Padang Gurun

 

  1. Akan tetapi, hari ini, kita membaca sebuah cerita yang menarik. 19.1-8. Ketika Izebel, seorang ratu, mengancam untuk membunuh dia, Elia begitu ketakutan hingga melarikan diri ke padang gurun. Menghadapi 450 nabi Baal dengan taruhan nyawa dia begitu berani, kini menghadapi Izebel, ciut hatinya. Dan dia mengeluh pada ayat 4, “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku!” Dan akhirnya tertidurlah dia dalam keadaan depresi dan frustasi.

 

  1. Yang menarik, apa yang dilakukan Allah? Allah yang dengan penuh keajaiban menyalakan kurban bakaran yang dibasahi air itu, kini mengutus malaikat-Nya untuk membangunkan Elia dan … memberi makan. Sepele sekali. Makan. Tidak ada keajaiban. Tidak ada mujizat yang menggemparkan. Yang ada adalah: Makan.

 

  1. Elia versi padang gurun yang depresi dan frustasi kini disapa oleh Allah versi padang gurun, Allah pemelihara, Allah pemberi matahari bagi semua orang, God of the ordinary things. Inilah Allah pemberi roti day-by-day. Apa tujuan Allah memberi makan Elia? Ayat 7 mengatakan, supaya Elia punya kekuatan mengadakan perjalanan jauh. Inilah God of a long haul. Seorang teolog Asia bernama Kosuke Koyama menamai Allah semacam ini “Three mile an hour God” (Allah yang berjalan tiga mil per jam). Tiga mil per jam adalah kecepatan seseorang berjalan kaki. Allah yang berjalan kaki. Allah yang ikut berjalan dengan bangsa Israel di padang gurun. Allah yang kita rasakan pemeliharaanNya saban hari. Allah yang bagi kebanyakan kita terlalu “biasa-biasa saja.”

 

  1. Akan tetapi, episode padang gurun hanyalah jeda, intermezzo, break, yang kemudian dilanjutkan dengan episode berikutnya: Gunung Horeb. Inilah gunung yang sama yang dinaiki Musa ketika menerima menerima penglihatan Allah dalam bentuk semak yang menyala. Allah versi Gunung Horeb semacam apa yang tampil di hadapan Elia?

 

Allah Gunung Horeb

 

  1. 9-10. Allah bertanya, “Apa kerjamu di sini, hai Elisa?” Allah bertanya kepada Elia, Allah bertanya tentang Elia. Elia adalah pusat pertanyaan Allah. Tap apa jawab Elia? Ayat 10 menunjukkan fakta objektif masalah yang dihadapi Elia: orang Israel meninggalkan perjanjian, meruntuhkan mezbah2, membunuh nabi-nabi Allah, bahkan mau membunuhku. Nggak nyambung! Pertanyaannya: bagaimana kamu sekarang? Jawabannya: mereka … mereka … mereka.

 

  1. Dan apa jawaban Allah? “Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!” Nah, ini dia! Di atas gunung lagi! Di hadapan Tuhan! Amat wajar jika Elia mengharapkan pengalaman akan Tuhan yang sama yang dialami ketika menghadapi 450 nabi Baal. Di atas gunung Karmel. The same thing! Allah yang mahakuasa yang dahsyat itu akan memulihkan aku. Benarkan demikian?

 

  1. Segera setelah Allah menyuruh Elia keluar dan berdiri di atas gunung, apa kata ayat yang sama? “Maka Tuhan lalu!” Lalu muncullah gejala-gejala alam yang oleh orang Israel selalu dikonotasikan sebagai tanda kehadiran Allah: /1/ Angin yang besar dan kuat; /2/ gempa; /3/ api. Dan Tuhan tidak ada di sana! OK Tuhan, cukup! Jangan main petak umpet. Ini bukan Tuhan yang kuharapkan. Ini bukan Tuhan yang mahadahsyat yang aku kenali. Tetapi bagaimana Allah hadir? “datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.” Di situ Allah hadir. Dalam terjemahan lain: /1/ The sound of a gentle whisper; /2/ A still small voice. Inilah Allah yang bersembunyi. Dalam keheningan yang paling hening. Suara tanpa suara. Hadir dalam ketidakhadiran. Blaise Pascal mengatakan, Kekristenan yang menghilangkan iman pada Allah yang tersembunyi adalah kekristenan yang palsu.” Dia bukan Allah yang hiruk pikuk, bukan hanya Allah yang dahsyat. Namun Allah yang terlalu agung, hingga Ia tersembunyi bagi kita. Allah yang sudah serba jelas adalah Allah yang lebih kecil dari doktrin agama dan otak kita. Justru karena Ia tersembunyi maka Ia bebas hadir dalam bentuk dan dengan cara apapun.

 

  • Ketika kecil saya paling suka berbaring di rumput di halaman atau di atas kasur yang dijemur. Lalu memandang ke atas dan membayangkan pesawat luar angkasa yang begitu besar turun dari langit. Semakin lama semakin besar … terus turun, begitu besarnya, sampai begitu dekat, sampai beberapa centimeter di atas saya. Pada saat itu, malah saya tidak mampu lagi melihat pesawat luar angkasa itu secara penuh dan utuh. Saya terlalu kecil dibanding pesawat tersebut. Jika saya mengingat pengalaman dan imajinasi tersebut, kira-kira seperti itulah Allah.

 

  1. Allah gunung Karmel adalah God of great things. Allah padang gurun adalah God of small things. Allah gunung Horeb adalah God of nothing. Nothing bukan karena Allah tidak ada. Tetapi, nothing dalam arti “not a thing.” God is not a thing that can be objectified or perceived. Allah bukanlah objek, seberapa pun besarnya Ia. Ia terlalu besar untuk didefinisikan, untuk dibuat teori dan doktrin. Anda melihat, bahwa melalui cara berpikir ini, kita menyadari bahwa dalam keadaan frustasi dan depresi, bukannya Allah tidak hadir dalam kuasanya. Tapi Allah terkadang memilih untuk melewati gambaran God of great things. Dia mendekat dan menjadi terlalu dekat dengan kita sampai kita tidak mampu berkata apa-apa lagi tentang Allah.

 

  1. Pada titik semacam ini salahlah kalau kita berkata, “Allah hadir dalam hidup kita.” Kenapa salah, karena yang terjadi adalah sebaliknya, “Kita hadir di dalam pelukan Allah.” Itu sebabnya Elia kemudian, dikatakan pada ayat selanjutnya, “menyelubungi mukanya dengan jubahnya.” Persis ketika Musa di gunung yang sama tidak mampu memandang Allah. Yang berbeda, dalam kasus Musa, Allah tampil dalam semak yan menyala, dalam kasus Elia, Allah tidak hadir lewat cara-cara yang dahsyat itu, tapi angin sepoi-sepoi basa. Silence!

 

  1. Pengalaman hening ini penting sekali. Saya banyak belajar dari latihan perenungan dari kalangan Katolik yang amat menyadari pentingnya merenung dalam diam, serta menghayati kehadiran Allah melalui keheningan. Berbeda dengan gereja-gereja Protestan. Beberapa kali saya membuat ibadah yang lebih hening, jemaat diminta untuk diam dan merenung serta berusaha menghayati hadirnya Allah. Tapi susahnya luar biasa. Mereka merasa gelisah. Baru beberapa menit sudah bisik-bisik, cekikikan, dan banyak yang menghela nafas. Alkitab mengatakan dalam Mazmur 37:7, “Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia.”

 

  • Saya ingat pengalaman mendampingi seorang pasien HIV/AIDS yang sekarat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Sebut saja namanya, Obed. Seorang dari Papua. Ketika melihat kondisi Obed, sungguh menyedihkan. Badan yang kurus kering, kulit yang mulai mengeluarkan bisul. Sebelum memasuki ruangan yang terisolasi itu, saya sudah merancang kata-kata penghiburan apa yang bakal saya ucapkan untuk menghibur dan menguatkan Obed. Tetapi ketika berhadapan dengan kondisi yang mengenaskan itu, tak ada satu kata pun yang mampu saya ucapkan. Maka selama berpuluh-puluh menit yang mampu saya lakukan adalah menggenggam tangan Obed dan diam. Saya mendadak menjadi gagu dan membisu. Namun, ada satu pengalaman yang luar biasa yang saya rasakan. Saya merasakan sungguh bahwa Allah hadir di ruangan itu dan saya yakin perasaan yang sama dialami oleh Obed juga.

 

  1. Kita sering terlalu sibuk dengan kata-kata kita hingga tidak mampu mendengar suara Allah dalam keheningan. Kita sudah begitu addicted to noise.

 

  • Suatu kali diadakan interview untuk sebuah posisi operator Sandi Morse untuk sebuah kapal. Ruangan interview dipenuhi puluhan pelamar. Begitu ramai, karena masing-masing mengobrol sambil menunggu panggilan interview. Mereka begitu sibuk bercakap-cakap hingga tak mendengar suara intercom yang mengeluarkan bunyi bip … bip … bip. Kecuali seorang pelamar yang duduk tenang dan menunggu. Tiba-tiba ia melompat dan memasuki ke ruangan interview. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan muka berseri karena memperoleh pekerjaan tersebut. Beberapa orang yang menyadari itu segera mengajukan protes. “Saya datang lebih dulu dari dia!” Yang lain berkata, “Kita semua belum diinterview, bagaimana mungkin dia sudah mendapat pekerjaan itu.” Orang yang beruntung mendapat pekerjaan itu menjawab, “Kalian semua sebenarnya bisa mendapat pekerjaan ini, seandainya saja kalian duduk tenang dan mendengarkan pesan di intercom.” “Pesan apa?” tanya mereka. “Pesan dalam sandi morse yang mengatakan: Orang pertama yang mendengar pesan ini harap masuk ke ruangan untuk menerima pekerjaan ini.”

 

  1. Hari itu di atas gunung Horeb, Elia yang sudah mengalami Allah yang mahaajaib di gunung Karmel dan Allah mahasetia di padang gurun, mengalami Allah yang lain sama sekali, yaitu Allah yang tak bisa didefinisikan sama sekali, Allah yang melebihi cara-cara pandang orang beragama saat itu. Manusia bisa dan boleh berusaha mendefinisikan Allah—Allah begini atau Allah begitu—namun setiap kali manusia melakukannya, ketahuilah bahwa Allah ternyata lebih dari itu. Allah yang selalu dianggap hadir lewat tanda-tanda ajaib, di hadapan Elia, kini tampil justru dalam keheningan.

 

  1. Dan satu hal yang luar biasa terjadi: Justru di saat semacam itu, di dalam moment yang mendekam itu, terjadi dua hal: /1/ Elia menyadari siapa Allah sesungguhnya, dan; /2/ Elia mengalami pemulihan. Dan ia akhirnya siap melanjutkan tugas kenabiannya. Bahkan Allah memberikan tugas baru kepada nabi ini. Dengan kata lain, perjumpaan dengan Allah, dengan cara apa pun, tidak pernah mengizinkan orang untuk lari dari masalah. Perjumpaan dengan Allah memberi kesempatan sejenak untuk re-treat, namun tidak pernah Allah membiarkan kita untuk lari dari masalah. Perjumpaan dengan Allah memberi kekuatan baru untuk masuk kembali ke masalah hidup dengan semangat baru, visi baru, perspektif baru, hidup yang baru.

 

Konklusi

Ada empat hal yang menjadi pesan pemberitaan Firman Tuhan hari ini:

  • Ada tiga kesaksian tentang Allah kita temukan hari ini: God of great things, God of small things dan God of nothing. Dan saya percaya seluruh Alkitab akan memberikan kesaksian yang lebih banyak lagi tentang Allah. Apakah kita hanya menyukai salah satu citra tentang Allah? Allah yang seperti apa? Banyak orang Kristen hanya suka pada Allah gunung Karmel yang mahadahsyat dan melupakan bahwa Allah juga tampil sebagai pemelihara kita selama perjalanan di gurun pasir. Atau juga Allah yang menggelisahkan yang tampil dalam diam dan keheningan.
  • Teks kita malah secara khusus menunjukkan betapa pentingnya mengalami kehadiran Allah dalam keheningan, karena sering dalam situasi hening itu, pengalaman akan Allah menjadi amat nyata dan kita mengalami pemulihan hidup yang paling nyata. Di dunia yang super bising ini, mulailah kebiasaan untuk mengahragi perjumpaan dengan Allah melalui keheningan.
  • Jangan pernah menyangka bahwa Allah meninggalkan kita. Tiadanya bukti kehadiran Allah yang bisa kita rasakan, dengar, lihat, amat mungkin karena indera kita yang amat terbatas. Karena Allah selalu adalah Imanuel, Allah-beserta-kita. Ketika kita menyangka Allah tidak mendengar kita, jangan-jangan sebenarnya kita sudah berada dalam pelukan-Nya.
  • Kita harus belajar untuk tidak mendikte Allah, bagaimana Allah mau hadir dan bekerja dalam hidup kita. Pada sebuah bumper sticker tertulis: “There is God … And you are not Him!”

Leave a Reply

Your email address will not be published.