Renungan Berjalan bersama Tuhan

Allah Menjadi Sama dengan Manusia

Allah Menjadi Sama dengan Manusia

Ibrani 4:14-16

Menjadi “sama” sering kali menjadi cita-cita banyak orang. Pemuda dan pemudi yang sedang berpacaran pasti mempunyai tujuan yang diinginkan, yaitu menjadi sama. Demikian juga kita yang sudah berkeluarga, semua menginginkan bisa menjadi sama. Bangsa dan negara kita, juga terus berjuang untuk menjadi sama! Menjadi “Sama” bukan berarti memakai seragam yang sama. “Sama” di sini mempunyai arti “tidak ada perbedaan apa pun dalam menjalani kehidupan ini”. Tidak ada perbedaan status, tidak ada perbedaan tingkat sosial, mengakui kemampuan masing-masing, tidak ada yang lebih pandai atau lebih bodoh dari yang lain. “Sama” juga berarti mau ikut ambil bagian dalam menjalani segala pergumulan hidup ini. Seperti yang dikatakan oleh Paulus, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15).

Anak Allah yang menjadi manusia, yaitu Tuhan Yesus telah menjadi sama seperti kita! Penulis Ibrani berkata, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat tu-rut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibrani 4:15). Tuhan Yesus menjadi manusia, Dia sebagai Imam Besar, yang bertugas membawa korban bakaran untuk penebusan dosa. Ia tidak membawa domba yang disembelih, melainkan diri-Nya yang rela mati di atas kayu salib, sebagai Anak Domba Allah yang disembelih. Dia rela mati untuk menebus segala dosa kita agar kita yang binasa dapat diselamatkan.

Mengapa Tuhan Yesus melakukan ini? Karena Dia rela menjadi “sama” dengan kita. Kecuali satu yang tidak sama, yakni Dia tidak “berbuat dosa”. Dia Allah yang tidak berdosa sehingga hanya Dia yang dapat menebus segala dosa kita. Dia rela menjadi sama seperti kita, ikut merasakan bagaimana penderitaan manusia akibat dosa; merasakan kekejaman manusia yang berdosa; merasakan kesusahan manusia akibat dosa; ikut meneteskan air mata karena kesakitan manusia; ikut menangis ketika ada yang berduka; ikut merasakan bagaimana orang sakit lumpuh yang bertahun-tahun tidak dapat sembuh, orang yang buta sejak lahir, orang yang kerasukan setan, orang yang disingkirkan dari masyarakat karena dianggap sebagai orang yang paling berdosa. Dalam segala hal menyangkut kehidupan, Dia sama dengan kita. Hanya dengan menjadi sama, Dia baru bisa merasakan seluruh kehidupan manusia. Pengalaman-pengalaman hidup yang diwarnai dengan suka dan duka, gembira dan tangis, menang atau kalah, berhasil atau gagal, dan sebagainya, dirasakan dengan sungguh-sungguh ketika Dia menjadi sama dengan manusia. Dengan menjadi sama berarti seseorang mau merendahkan dirinya untuk menjadi sama dengan mereka yang ada di bawahnya. Tuhan Yesus datang ke dalam dunia, Dia telah meninggalkan Ke-Allahan-Nya dengan mengambil rupa seorang hamba. Segala kemuliaan dan keagungan-Nya ditanggalkan dan menjadi sama dengan manusia. Itulah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus untuk menyelamatkan semua manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *