Renungan Berjalan bersama Tuhan

Ambil Kesempatan itu! Benarkah?

Ambil Kesempatan itu! Benarkah?

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Markus 14:10-11

Kesempatan tidak boleh dilewatkan karena begitu terlewat, tidak akan bisa kembali lagi. Itulah pernyataan yang sering ditanamkan sebagai motivasi yang kuat untuk menggapai setiap kesempatan yang ada. Namun, pernahkah terpikir apakah kesempatan itu merupakan kesempatan yang baik, yang membangun, dan membuat kita semakin benar, ataukah justru kesempatan yang merusak? Bagaimana jika ada kesempatan untuk menghasilkan uang yang sangat besar namun dapat merusak hidup kita? Jika kita diperhadapkan pada kesempatan semacam itu, apakah kita akan mengambilnya atau mengabaikannya? Tentunya ada dua pertimbangan. Ada yang berpikir, “Ambil kesempatan itu.” Bukankah kita bisa mendapatkan keuntungan karena dapat banyak uang? Kita tidak usah menimbang-nimbang apakah cara mendapat uang itu halal atau haram, benar atau salah, yang penting kita memperolehnya. Namun, ada orang yang memutuskan untuk “tidak mengambil kesempatan itu”. Bukankah setiap kesempatan perlu dilihat dulu kebenarannya? Kesempatan tidak bisa berdiri sendiri tanpa memiliki dasar tindakan itu benar atau tidak.

Ada sebuah tim hoki bernama Ice Breaker, yang hebat sekali dalam setiap pertandingan. Mereka benar-benar bermain dengan sangat sportif dan selalu menjadi juara dunia. Suatu saat, kapten tim Ice Breaker didekati oleh kelompok mafia. Semua anggota tim dan sang kapten dijanjikan uang yang sangat banyak asalkan mereka mau bermain kotor dengan mengabaikan teknik-teknik bermain hoki yang benar. Akhirnya, kapten Ice Breaker menerima tawaran itu dan menerima banyak uang. Namunm tindakan itu sangat dikecam oleh para penonton yang benar-benar mau melihat pertandingan yang baik. Suatu saat, ketika sang kapten berada di hotel, ia bertemu dengan seorang anak remaja yang dulu sangat mengidolakannya. Anak remaja itu berkata, “Anda sekarang bukan idola saya lagi karena sekarang tim Anda pengecut dan tidak bermain seperti dulu lagi!” Lalu, anak remaja itu merogoh kantongnya dan mengembalikan kartu nama yang dulu pernah ditandatangani oleh sang kapten tadi. Anak remaja itu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di balik permainan yang kotor itu. Pada malam harinya, sang kapten tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ia sangat gelisah. Memori-memori muncul di benaknya ketika dulu timnya diidolakan oleh banyak orang karena memang permainan mereka sangat bagus. Keesokan harinya ia mengumpulkan timnya dan menceritakan semua yang terjadi, serta menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan dengan mendapatkan uang banyak “merupakan pengkhianatan terhadap citra pemain hoki yang benar”. Sang kapten “bertobat” dan tim itu mulai bermain dengan benar! Tawaran uang yang jauh lebih besar dari yang pernah diterimanya, kini ditolaknya!

 

Kesempatan harus selalu didasarkan pada kebenaran firman Tuhan. Jika kesempatan tidak dikaitkan dengan kebenaran, maka orang dapat terjerumus menjadi pengkhianat. Matius mencatat tindakan Yudas Iskariot yang memakai kesempatan di luar kebenaran. “Lalu pergilah Yudas Iskariot, salah seorang dari kedua belas murid itu, kepada imam-imam kepala dengan maksud untuk menyerahkan Yesus kepada mereka. Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya. Kemudian ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus” (Markus 14:10-11). Kesempatan yang dipakai dan diambil oleh Yudas Iskariot merupakan kesempatan untuk melakukan kejahatan. Mari, kita selalu mengambil kesempatan yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan agar kesempatan tersebut dapat menjadi berkat bagi kita. Amin.

1 thought on “Ambil Kesempatan itu! Benarkah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *