Renungan

Anak Allah atau Anak Raja?

Oleh: Pdt. Ruth Retno Nuswantari 

Wahyu 1:4-8

… dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, … oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus.

Banyak orang Kristen menafsirkan statusnya sebagai orang percaya dengan logika sebagai berikut:

Allah adalah Raja

Aku adalah anak Allah

Maka aku adalah anak raja

Oleh karena itu, aku berhak untuk kaya raya secara materi, semua sakit sembuh, bebas dari segala bentuk penderitaan, selalu sehat, selalu nomor satu dalam segala hal, serta berhak menikmati semua kesenangan dunia, karena seluruh dunia adalah milik Bapaku dan aku anakNya.

Logika seperti itu nampaknya benar, tetapi salah. Memang Alkitab berkata bahwa setiap orang percaya diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12), untuk menggambarkan relasi yang begitu dekat dan istimewa antara Allah dengan orang percaya seperti Bapa dengan anak, tetapi Alkitab tidak pernah menggambarkan relasi tersebut sebagai Raja dan anak raja.

Kitab wahyu sendiri ditulis untuk orang-orang percaya yang pada saat itu sedang mengalami penganiayaan besar karena iman mereka kepada Tuhan Yesus, bukan dengan janji bahwa penderitaan itu akan segera berakhir dan kelimpahan materi sudah menanti diambang pintu, melainkan sebuah dorongan agar mereka menghadapi semua itu dengan ketekunan, yang dalam bahasa Yunani dipakai kata hupomone.

Hupomone, bukan sekadar bertahan dalam penderitaan apalagi dengan rasa berat dan sikap mengasihani diri, bukan juga sekedar menghadapinya dengan sukacita, melainkan  suatu sikap, yang karena sadar akan kehendak Allah, bertekun dalam penderitaan yang harus ditanggung dengan penuh pengharapan akan kemuliaan kekal yang sudah disediakan bagi setiap orang percaya, serta dengan bersandar dan memandang kepada Tuhan Yesus, secara proaktif mengubah penderitaan menjadi kemuliaan.

Itulah yang dilakukan Yohanes. Dia dibuang di Pulau Patmos, tetapi dengan sikap hupomone, kesusahan dan kesepiannya menjadi kesempatan untuk bersekutu dengan Tuhan, menerima wahyu dan menuliskannya menjadi penghiburan orang percaya di segala tenpat dan waktu yang juga sedang menderita. Penderitaannya menjadi kemuliaan.

Apakah hari ini kita sedang menderita? Jika kita bersikap hupomone, maka penderitaan kita justru akan menghasilkan kemuliaan.

Penderitaan menghasilkan kehancuran atau kemuliaan tergantung dari sikap kita dalam menghadapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *