Renungan Berjalan bersama Tuhan

Anak Kembar

Anak Kembar

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Filipi 2:1-11

Sesuatu yang unik terjadi ketika sebuah keluarga dikaruniai anak kembar. Tentunya dalam pengertian kembar persis, baik dalam hal paras, gaya, tingkah laku, bahkan mungkin juga kemauan mereka. Memang tergantung dari benih awalnya, apakah itu berasal dari satu telur atau dua telur. Tentunya yang bisa menjelaskan lebih rinci tentang hal ini adalah saudara-saudara kita yang mendalami ilmu kedokteran dan psikologi. Tetapi yang ingin kita renungkan bersama adalah masalah keselarasan dua pribadi. Selaras berarti sehati, sepikir, dan satu tindakan. Itulah yang menjadi pergumulan Paulus ketika ia menggembalakan jemaat di Filipi. Katanya, “Sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” (Filipi 2:2). Paulus akan sangat bersukacita bila menyaksikan anak-anak Tuhan hidup rukun dan saling mengasihi.

 

Pergumulan kita bersama adalah bagaimana menciptakan kehidupan seperti itu di dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kita. Sekalipun anak kembar, itu bukan jaminan bahwa mereka dapat sehati, sepikir, satu jiwa, dan satu tujuan. Yang jelas, hal itu dapat dicapai bila  dua pribadi bertemu. Jika dua pribadi sepakat menjalankan pola tersebut, maka pribadi-pribadi lain akan lebih mudah mengikutinya.

 

Ada seorang ibu yang mengandung anak kembar. Tentunya kedua anak ini hidup rukun di dalam kandungan. Namun setelah mereka lahir dan tumbuh dewasa, mereka mengembangkan kehidupan yang sangat berbeda. Yang sulung, sebut saja namanya Edward, menjadi seorang penjahat, sedangkan yang bungsu, Eckard, menjadi hakim yang alim dan bijaksana. Setelah mereka berpisah selama 25 tahun, mereka sudah tidak saling mengenal. Edward menjadi buronan dan Eckard menjadi hakim yang terkenal. Suatu hari Edward tertangkap dan dibawa ke pengadilan dengan hakim Eckard sebagai pemimpin persidangan. Sang adik mulai mengenali sang kakak, tetapi sang kakak sudah tidak mengenali adiknya. Hakim yang bijak itu menjatuhkan hukuman mati kepada kakaknya karena kejahatan yang dilakukan oleh Edward sudah memakan banyak korban jiwa. Hari hukuman tembak pun ditetapkan. Namun, pada malam itu sang adik, Eckard, benar-benar bergumul antara keadilan dan kasih. Akhirnya, ia menemui Edward pada dini hari, sebelum hukuman tembak itu dilaksanakan. Ia memperkenalkan dirinya, dan mereka dipersatukan kembali. Lalu, sang adik meminta agar mereka bertukar pakaian, sambil berkata, “Kak, keluarlah dan jangan berbuat dosa lagi.” Tak lama setelah mereka bertukar pakaian, sang kakak keluar, dan sang adik dijatuhi hukuman mati. Pada saat mereka menjalani kehidupan masing-masing, mereka terlihat berseberangan dan berbeda seperti langit dan bumi. Yang satu hidup dalam kebenaran, dan yang lain dalam kejahatan. Namun ketika ada kasih, mereka dipersatukan kembali dalam kesehatian, satu jiwa, satu tujuan. Kasih mengikat untuk menyelamatkan yang mati dan binasa. Kasih muncul untuk mengampuni dan mengasihi. Ilustrasi anak kembar di atas menjadi contoh kesehatian ketika kasih menjadi pengikatnya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *