Renungan Berjalan bersama Tuhan

Anak Nakal dan Anak Manis

Anak Nakal dan Anak Manis

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Lukas 15:11-32

Setiap anak yang dilahirkan mempunyai keunikannya masing-masing. Tidak pernah ada manusia yang sama persis di dalam dunia ini, baik dalam hal sifat, karakter, wajah, gaya, model, cara berjalan, berat badan, dan kemauan. Setiap orang mempunyai ciri khasnya masing-masing. Setiap anak mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tuhan menjadikan manusia dengan berbagai macam karakter, sifat, karunia, bakat, talenta, kemauan, kehendak, dan lainnya. Oleh karena itu, kita sebagai orangtua tidak bisa membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain. Anak ini lebih pandai daripada anak yang lain. Ia lebih cepat menangkap apa yang dikatakan orangtua daripada anak yang ini yang begitu lamban, bahkan sangat bodoh! Wow ... hati-hati jika kata-kata seperti itu terucap dari mulut orangtua. Bukankah anak yang kelihatannya lemah pasti mempunyai kelebihan yang lain yang tidak dimiliki oleh anak yang tampak kuat?

Dari pemahaman ini, jelas lomba-lomba yang kerap menilai karunia atau talenta dalam diri seseorang sebenarnya tidak tepat! Sebagai contoh, lomba Paduan Suara, lomba berkhotbah, lomba bercerita, lomba menari, lomba membaca puisi, lomba memasak, dan lainnya. Semua itu tidak dapat dilombakan untuk menilai bahwa anak ini lebih berbakat daripada anak yang lain! Karena karunia, talenta, dan bakat diberikan oleh Tuhan secara unik kepada setiap anak-anak-Nya.

Namun, dalam realitas kita jumpai bahwa dalam sejarah kehidupan anak dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ada banyak faktor yang memengaruhi pertumbuhan anak yang menggiring anak menjadi anak yang nakal pada waktu dewasa. Hidupnya tidak karuan, ia menjadi anak yang mursal! Entah hal itu karena pengaruh lingkungan masa kecilnya atau pendidikan yang didapatnya. Bisa juga hal itu karena ia kekurangan kasih sayang dari orangtua dan orang-orang di sekitarnya. Dalam Lukas 15:11-32 Tuhan Yesus menceritakan ada anak yang hilang! Anak yang hilang adalah anak yang nakal, berbeda dengan si sulung yang manis dan taat kepada orangtuanya. “Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya” (Lukas 15:12-13). Tentunya sikap si bungsu sangat memilukan hati sang bapa. Dengan berat hati harta warisan itu dibagi dua, tetapi dalam sekejap harta si bungsu habis karena bukan untuk menghasilkan, melainkan untuk berfoya-foya. Lebih sedih lagi ketika anak itu pergi dan meninggalkan rumah ayahnya dan keluarganya. Sang bapa boleh dikatakan telah kehilangan anak yang dikasihinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *