Khotbah Perjanjian Lama

Anak Panah di Tangan Pahlawan

Hal ini saya sampaikan kepada Saudara karena saya juga pernah mengalami ditarik ke belakang oleh Tuhan. Ndak enak, Saudara. Sejak saya menyerahkan diri sepenuhnya untuk melayani Tuhan, terjadi gempuran demi gempuran yang menghantam dan membuat saya berpikir ulang apa benar kehendak Tuhan bagi hidup saya. Sampai akhirnya tahun 2007, saya benar-benar merasakan ketakutan, saya merasa gagal dalam pelayanan. Seakan-akan saya seperti wayang yang dimasukkan ke dalam kotak, tidak dimainkan lagi oleh dalangnya. Itulah tarikan ke belakang. Saya berontak di hadapan Tuhan. Tapi, ternyata, justru melalui tarikan ke belakang itulah Tuhan mengajar saya. “Coba Andy… lihat Rasul Paulus. Apakah Paulus pernah ditarik ke belakang dalam hidupnya? Saya menjawab, “Ya, pernah, malah sering sekali Tuhan. Paulus dipenjara, didera, disesah, dilempari batu sampai sekarat, karam kapal, ada duri dalam dagingnya, ahh…masih banyak lagi” Ternyata, Tuhan belum selesai mengajar saya. “Bagaimana dengan Anak-Ku, Yesus? Apakah hidup-Nya juga pernah ditarik ke belakang?” Saya tertegun… kemudian menjawab, “Benar Tuhan, pada saat Dia disalib, hidup-Nya ditarik ke belakang.” Tapi, Saudara… sampai di situ saya masih belum mengerti apa yang sebenarnya ingin Tuhan sampaikan kepada saya.

Pada saat hidup saya ditarik ke belakang, itulah saat-saat di mana saya kembali merenungkan seluruh kehidupan saya. Baru dari perenungan itu saya mulai mengerti dan mendapati satu kebenaran yang Tuhan ajarkan. Coba perhatikan, Saudara. Ketika seorang pahlawan menarik anak panahnya ke belakang, apakah ia akan terus-menerus menahannya? Tidak, Saudara. Tidak mungkin seorang pemanah menarik anak panahnya lalu menahan terus anak panah itu pada posisi seperti itu. Satu hari, dua hari, tiga hari… terus begitu? Tidak. Apa artinya ini, Saudara? Hidup yang ditarik ke belakang itu sifatnya sementara. Ketika sang pahlawan menarik anak panahnya ke belakang, tentunya ada batas toleransinya. Tidak mungkin dia menarik ke belakang tanpa batas. Tali dan busurnya bisa putus, Saudara. Inilah hikmat Tuhan: titik tarikan yang Tuhan lakukan kepada saya bisa berbeda dengan titik tarikan yang dilakukan Tuhan kepada Saudara. Tuhan Mahabijaksana. Ada titik di mana tarikan itu berhenti, disesuaikan dengan kemampuan Saudara dan saya. Di sini saya kembali diajar: bagaimana saya harus taat pada kehendak Allah yang sempurna dalam hidup ini. Saya tahu, kalau pada saat ini saya bisa berada di depan Saudara-saudara, itu adalah karena tarikan Sang Pahlawan.

Selanjutnya, Saudara. Saya percaya bahwa pada saat-saat seperti itu, saat hidup kita ditarik ke belakang, saat itulah kita belajar untuk berpegang pada kebenaran firman Tuhan. Pada saat hidup kita ditarik ke belakang, satu-satunya kekuatan kita adalah firman Tuhan. Saya mengalami itu, Saudara. Dan inilah yang saya dapatkan: semakin saya dekat dengan sasaran, semakin saya mengetahui kehendak-Nya… tarikan-tarikan itu tidak lagi saya rasakan sebagai penderitaan. Tarikan itu bukan lagi membuat saya lari dari kenyataan, tapi justru semakin mendekatkan saya pada sasaran. Luar biasa! Kemudian, apa yang terjadi, Saudara? Ketika hidup kita sudah menancap ke sasaran, kita tidak lagi merasakan tarikan. Karena kedekatan kita, karena kedalaman cinta kita kepada Tuhan, tarikan demi tarikan itu tidak terasa dalam hidup ini.

4 thoughts on “Anak Panah di Tangan Pahlawan

    1. Terima kasih Om Poey. Kiranya hidup kita melesat jauh ke depan mengenai sasaran yg ditetapkan Tuhan bagi kita masing2. Jbu

  1. Puji Tuhan, perenungan yg menyadarkan bahwa Tuhan punya rencana yg indah buat tiap anakNya yg menyandarkan hidup padaNya….Terimakasih Pdt. Andi Kirana..GBU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *