Khotbah Perjanjian Lama

Anak Panah di Tangan Pahlawan

Oleh karena itu, ketika tarikan itu terjadi dalam kehidupan Saudara, jangan menjauh. Jangan lari. Kenapa? Karena pada fase yang terakhir, ketika sang pahlawan melepaskan anak panahnya, tarikan itu tidak lagi terjadi. Pada saat anak panah itu melesat ke depan, pada saat itu kita bisa mengatakan, “O betapa indahnya hidup ini. O… ini to yang dikehendaki Tuhan saat Dia menarik hidupku ke belakang.” Kita bisa mengucap syukur, justru karena tarikan dalam hidup kita, anak panah kehidupan kita mengenai sasaran dengan tepat. Puji Tuhan.

Saya tahu, siapa Pahlawan dalam hidup saya. Dia adalah Yesus.

Jika yang menjadi Pahlawan hidup Saudara adalah Tuhan Yesus, saya bisa pastikan hidup Saudara akan melesat ke depan. Dan Saudara akan menikmati hidup yang gilang-gemilang. Ini yang kita saksikan dalam kehidupan Yusuf. Yusuf melesat ke depan menjadi perdana menteri Mesir, sekalipun sepanjang hidupnya ditarik ke belakang oleh Sang Pahlawan. Demikian juga saya percaya, apabila saat ini kita mengalami tarikan demi tarikan, pada saatnya nanti anak panah itu akan dilepaskan dan kita akan melesat jauh ke depan. Apakah Saudara siap melesat ke depan? Siap Saudara?! Siapa pun kita, sebagai anak panah kita harus siap di tangan Sang Pahlawan. Aku siap Tuhan, aku serahkan hidupku untuk dipakai Sang Pahlawan, aku siap melesat ke depan. Seperti anak panah di tangan pahlawan, demikian juga hidup Saudara dan saya, hidup kita akan melesat ke garis terdepan. Mari kita bersuka cita karena kita mempunyai masa depan yang indah bersama Sang Pahlawan kita, Yesus Kristus.

4 thoughts on “Anak Panah di Tangan Pahlawan

    1. Terima kasih Om Poey. Kiranya hidup kita melesat jauh ke depan mengenai sasaran yg ditetapkan Tuhan bagi kita masing2. Jbu

  1. Puji Tuhan, perenungan yg menyadarkan bahwa Tuhan punya rencana yg indah buat tiap anakNya yg menyandarkan hidup padaNya….Terimakasih Pdt. Andi Kirana..GBU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *