Renungan Berjalan bersama Tuhan

Anak yang Bijak

Anak yang Bijak 

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

“Anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya, tetapi anak yang bebal adalah kedukaan bagi ibunya” (Amsal 10:1).

Kita sering mendengar keluarga-keluarga yang dipusingkan oleh perilaku anak-anaknya, khususnya yang bandel, nakal, dan sulit sekali diatur. Mereka kadang kala berkata, “Lebih baik papa dan mama nggak punya anak, daripada punya anak seperti kamu!” atau ada yang berkata, “Anak satu ini sulitnya diberitahu… beda dengan saudara-saudaranya yang lain. Kalau yang lain diberitahu sedikit saja sudah mengerti, tetapi kalau yang satu ini, selalu menunggu dibentak, diteriaki … baru menurut. Memang seperti papanya bandelnya bukan main ….”

Bermacam keluhan bisa keluar dari orangtua. Ada anak yang memang mudah diatur, dididik, diberitahu yang baik dan benar, tetapi juga ada anak yang nakal, bandel, sulit diatur, bahkan berani melawan orangtua. Anak yang baik pasti mendatangkan sukacita bagi orangtua, sedangkan anak yang sulit diatur pasti mendatangkan dukacita, karena setiap hari dijalani dengan pertengkaran, kekerasan, dan suasana emosional. Tentu banyak alasan dan latar belakang dari anak-anak yang nakal, tidak menurut, atau bahkan cenderung melawan.

Kata Amsal, anak yang bijak mendatangkan sukacita kepada ayahnya. Bagaimana agar anak itu bisa menjadi bijak? Setiap manusia yang lahir pasti beranjak dari belajar dan terus belajar … tentang makan, minum, bertumbuh, berinteraksi dengan lingkungan, dan sebagainya. Bagaimana ia bisa berdiri, berjalan dan berlari, semuanya membutuhkan pembelajaran. Tidak terkecuali dengan perjalanan hidupnya yang semakin dewasa. Cara berpikir, berperasaan, dan berkehendak pasti dilalui dengan belajar dari orang dewasa yang ada di sekitarnya. Bukankah ia belajar pertama kali dari ayah dan ibunya? Anak akan bijak jika ia bertumbuh dengan dikelilingi oleh orang-orang bijak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *