Renungan Berjalan bersama Tuhan

Antara Kata dan Langkah

Antara Kata dan Langkah

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

“Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya” (Amsal 14:15).

Kata “percaya” menjadi hal yang sangat penting dalam menjalin segala relasi, baik itu dalam persahabatan, komunikasi dengan siapa pun, ketika mengikat sebuah perjanjian, terlebih lagi ketika mengerjakan bisnis. Ada orang yang mengatakan, “Percaya menjadi kunci untuk melihat apakah seseorang bisa diajak kerja sama atau tidak.” Bahkan ada orang yang mempunyai prinsip, kalau sampai satu kali saja saya ditipu, jangan harap saya mau berhubungan lagi dengan Anda! Ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar jujur, berkomitmen tinggi, dan sungguh-sungguh menjalankannya. “Percaya” menjadi dasar untuk menilai apakah seseorang itu benar, tulus, dan jujur kepada dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. “Percaya” juga dijadikan dasar bagi seseorang untuk menemukan calon pacarnya, yang kelak nanti menjadi suami/istrinya. Jika dari awal sudah tidak dapat dipercaya, akan sulit diteruskan memasuki kehidupan berkeluarga.

Mengapa Amsal mengatakan: “orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan…” bukankah “percaya” itu penting sekali dalam berelasi dengan siapa pun? Benar, yang dimaksudkan percaya di sini bukan berarti asal percaya tanpa ada penilaian dan analisis yang baik. Apakah yang dikatakan atau dilakukan orang lain kepada kita, dapat langsung kita percayai? Tidak bukan? Orang yang bijak, kata Amsal, memperhatikan dulu, apakah itu benar atau tidak untuk bisa dipercayai. Misalnya ada orang yang mengatakan, “Gunung Merapi itu akan saya pindahkan ke laut selatan Jawa, sehingga kalau meletus tidak akan membuat bencana di kota-kota sekitar Merapi….” Jelas kata-kata ini, sekalipun dikatakan “orang besar”, tentunya tidak akan dipercaya. Namun kita lihat realitas di masyarakat, ada juga orang yang percaya dengan ungkapan itu.

Bagi Amsal, orang yang demikian adalah orang yang tidak berpengalaman; jika itu yang dilakukan, maka orang yang demikian pasti akan mengalami kebingungan, ia tidak mempunyai pendirian yang kuat bagi dirinya sendiri, karena ia akan menjadi orang yang mengikuti apa pun yang dikatakan orang lain, entah benar atau tidak! Perkataan bisa dipermainkan. Orang jahat atau penipu ulung pandai berkata-kata dengan indahnya, bahkan kelihatan meyakinkan sekali. Namun semua yang dikatakannya bohong, tidak ada kebenarannya. Maka orang yang tidak berpengalaman mudah tertipu oleh ungkapan kata-kata yang manis. Tidak demikian dengan orang bijak, ia bukan saja mendengar kata-kata yang indah dan manis, bahkan juga yang sedap didengar dan mengharukan, namun ia masih harus memeriksa kembali apakah yang dikatakan itu benar atau tidak, dilihat dulu realitasnya, dikerjakan atau tidak. Dengan kata lain, orang yang berpengalaman tidak mudah untuk percaya sebelum ada bukti bahwa yang dikatakan itu benar. Marilah kita belajar menjadi orang yang bijak dan berpengalaman, di mana “percaya” dibuktikan terlebih dahulu kebenarannya, supaya kita tidak tertipu oleh mereka yang sengaja melakukan kejahatan. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *