Renungan Berjalan bersama Tuhan

Antara Kekhawatiran dan Kata-kata Manis

Antara Kekhawatiran dan Kata-kata Manis

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.” (Amsal 12:25)

Dalam kehidupan sehari-hari, dapat terjadi hal-hal yang sama sekali tidak terduga. Jika kita melihat realitas hidup yang rutin kita jalani, kemudian menatap masa depan dengan berbagai kebutuhan yang kelihatan besar, semua itu akan membuat kita merasa khawatir. Apalagi bila kita melihat semua aspek hidup kita satu per satu. Kita tidak tahu apakah di tahun-tahun mendatang perekonomian bangsa dan negara kita lebih baik? Apakah harga-harga kebutuhan sehari-hari bisa terkendali? Apakah bahan bakar dan kebutuhan dasar listrik akan naik, yang pasti memicu semua harga juga ikut naik? Jika gaji naik 10%, semua kebutuhan pokok akan melonjak sampai 20%. Belum lagi berbagai kebutuhan yang pasti ada tetapi tidak bisa diprediksi, misalnya biaya rumah sakit, kalau tiba-tiba mengalami sakit dan membutuhkan perawatan yang serius. Hal lain adalah tantangan hedonisme di sekitar kita. Daya tarik rekreasi dan kepuasan diri sangat menantang di zaman ini. Berbagai hiburan sekuler, yang menawarkan penyaluran kebutuhan jiwa di tengah-tengah stres pekerjaan, sangat menantang kita. Keinginan kedagingan bisa memicu konflik yang tajam dalam kehidupan keluarga.

Semua hal tersebut kalau dipikirkan dapat menimbulkan kekhawatiran yang besar. Kekhawatiran itu bisa menghantui seluruh hidup kita. Kekhawatiran muncul karena melihat masa depan yang jauh dan dikaitkan dengan realitas sekarang yang lemah. Ketika kekhawatiran muncul, Amsal mengingatkan bahwa kekhawatiran itu dapat “membungkukkan orang”. Kesusahan digambarkan seperti orang yang mengangkat beban yang sangat berat, sampai badannya bungkuk. Ternyata kekhawatiran itu tidak hanya menyusahkan diri sendiri, tetapi juga berdampak pada orang lain. Mereka juga bisa hanyut dalam kekhawatiran kita, misalnya seluruh anggota keluarga. Kekhawatiran memberikan kecemasan yang akhirnya membuat kita tidak melakukan apa pun untuk mengatasi kekhawatiran itu. Khawatir dan takut memang tidak akan menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi, maka Amsal mengatakan tentang “perkataan yang baik menggembirakan”. Amsal menasihatkan bahwa keadaan boleh terjadi seperti apa pun, tidak panen atau gagal panen, banyak kejadian mengkhawatirkan dan menakutkan, tetapi kata-kata menggembirakan akan memberikan kekuatan yang luar biasa. Mulut dan lidah kita mengeluarkan kata-kata yang menghibur, menguatkan, memberi pengharapan, tidak khawatir karena ada Tuhan bersama kita. Sikap seperti ini akan mendatangkan kegembiraan dan akan memberikan sukacita untuk menemukan jalan keluar bersama Tuhan. Amin.

Pokok Doa:

  1. Tuhan, tolonglah aku yang lebih sering menjadi orang khawatir daripada gembira. Terlebih ketika melihat masa depan, pekerjaan yang tidak menentu, kesehatan yang menurun, semua itu menjadi beban pikiran yang berat. Tolonglah aku untuk dapat berpikir positif bersama Tuhan, sehingga mulutku mampu mengatakan hal-hal yang menggembirakan.
  2. Tuhan, sertailah kami sebagai gereja-Mu agar selalu memberikan pengharapan di masa depan yang penuh keceriaan. Situasi dan kondisi boleh merosot, tetapi kasih setia Tuhan tidak pernah meninggalkan kami. Mampukan kami untuk terus memandang kepada Tuhan Yesus, agar anugerah-Nya menyertai sepanjang pergumulan dan beban hidup kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *