Khotbah Perjanjian Baru

Apa yang Kau Cari?

Oleh: Pdt. Ruth Retno Nuswantari 

Yohanes 1:35-51

“Apa yang kau cari?” adalah pertanyaan yang sangat penting untuk kita tanyakan kepada diri sendiri. Maksudnya “Apa yang kau cari dalam hidup ini?”, “Apa tujuan hidupmu?” Ini bukan mengenai apa yang kita lakukan, melainkan yang tersembunyi dalam hati, hal-hal yang mendorong kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu, bersifat kekal atau sementara (duniawi).

Orang Farisi dan para Ahli Taurat nampaknya setiap hari berkutat dengan kitab suci. Mereka mencari hal-hal yang halus, tersembunyi dan mendalam dari pokok-pokok rumit hukum Taurat, namun sebenarnya yang mereka cari adalah harga diri, pujian manusia, hal-hal duniawi. Demikian juga orang-orang Saduki, walaupun setiap hari ada di Bait Allah, sebenarnya yang mereka cari adalah kesempatan untuk memperoleh kedudukan dan kuasa. Terlebih lagi kaum Zelot yang mencari Mesias yang adalah pemimpin militer yang mampu menghancurkan penjajah Romawi. Memang bela negara adalah hak dan kewajiban warga negara. Sebagai warga negara adalah salah jika kita tidak ikut serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara, namun jika yang kita cari adalah kedudukan, kekuasaan, kekayaan dan  kenyamanan diri sendiri, bukan kemuliaan Allah dan kebaikan bagi sesama, maka sebenarnya kita sedang mencari hal-hal yang bersifat sementara.

Mengapa pertanyaan “apa yang kau cari” itu penting?

Karena jawaban dari pertanyaan tersebut menentukan masa depan kita, bukan hanya di dunia ini melainkan juga masa depan kekal hidup kita. Dengan menanyakan pertanyaan tersebut kepada diri sendiri serta merenungkannya secara mendalam, kita ditolong untuk memahami apa sebenarnya yang kita cari dalam hidup ini.

Ada sebuah lagu yang sering saya nyanyikan ketika masih kanak-kanak demikian:

Cari apa di dalam dunia (2x)

Cari dunia tentu binasa

Cari Yesus yang penuh cinta

Tuhan Yesus menanyakan pertanyaan penting ini kepada dua orang murid Yohanes yang sedang mengikuti Dia untuk menolong mereka memahami apa sebenarnya yang mendorong mereka melakukannya.

Bagaimana jika ternyata apa yang kita cari masih bersifat sementara?

Pada hakekatnya, meskipun nampaknya mencari Tuhan, sebenarnya tidak ada seorangpun di dunia ini yang secara natural mencari hal-hal yang bersifat kekal. Natur dosa kita mengarahkan pandangan kita kepada hal-hal yang bersifat sementara. Untuk benar-benar mencari hal-hal yang bersifat kekal membutuhkan komitmen untuk mengikut Tuhan Yesus dan berproses dengan Dia sampai akhir hidup kita.

Para murid Yohanes mengikuti Tuhan Yesus setelah mendengar penjelasan dari guru mereka tentang siapa Dia yaitu bahwa Dia adalah tokoh yang sangat terhormat sehingga Yohanes berkata bahwa membuka tali kasut-Nya pun dia tidak layak. (1:26-27). Membuka tali kasut adalah pekerjaan seorang budak. Kalau membuka tali kasut-Nya pun tidak layak, betapa luar biasanya Dia. Yohanes bahkan berkata bahwa Dia adalah Sang Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh 1:29), bahwa Dia sudah ada sebelum Yohanes ada (1:30), namun Yohanes diutus untuk mempersiapkan kedatangan-Nya (1:31), Dia membaptis dengan Roh Kudus (1:33), dan bahwa Dia adalah Allah (1:34). Jadi, mereka mengikuti Tuhan Yesus karena Dia adalah tokoh yang luar biasa. Apa yang sebenarnya mereka cari dari tokoh yang luar biasa itu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *