Khotbah Perjanjian Baru

Apakah Arti Hidupmu?

Markus 7:1-23

oleh: Andy Kirana

Jemaat yang diberkati Tuhan,

Kalau di masa pandemi Covid-19 ini ada protokol kesehatan berupa mencuci tangan, demikian juga dulu ada protokol mencuci tangan menurut adat istiadat Yahudi. Namun, aturan mencuci tangan ini tidak ada hubungannya dengan aspek kebersihan higienis. Yang dipentingkan di sini adalah protokol seremonial, yaitu kehalalan ritual dalam ibadah. 

Menurut William Barclay, cara mencuci tangan harus dilakukan secara khusus. Mula-mula, tangan itu haruslah bebas dari setiap unsur apa pun, seperti debu, pasir, dan sebagainya. Selanjutnya, air yang dipergunakan untuk mencuci harus disimpan di dalam bejana batu yang besar dan khusus sehingga secara seremonial juga harus tidak najis; tidak boleh dipergunakan untuk maksud-maksud lainnya, dan dipastikan bahwa tidak ada sesuatu dari luar yang masuk ke dalam air tersebut. Pertama, tangan diarahkan dengan ujung jari menunjuk ke atas. Air disiram ke atasnya dan dibiarkan mengalir ke bawah sampai ke pergelangan tangan. Jumlah minimum air adalah seperempat tabung kayu, yang kira-kira setara dengan satu setengah tempurung berisi air. Sementara tangan masih basah, setiap tangan harus dibersihkan dengan kepalan tangan dari lengan sebelahnya, kepalan tangan yang satu digosok ke telapak tangan lainnya. Ini berarti bahwa pada tahapan ini, tangan itu basah dengan air; tetapi air itu sekarang dianggap najis karena telah bersentuhan dengan tangan yang najis. Karena itu, selanjutnya tangan itu harus diarahkan dengan ujung jari menunjuk ke bawah dan air disiram ke atasnya sedemikian rupa sehingga jatuhnya mulai pergelangan tangan dan mengalir sampai ujung jari. Setelah melakukan semua ini, tangan dianggap sudah tidak najis.

Konon, ada kisah seorang rabi Yahudi yang pada waktu itu dipenjarakan oleh orang-orang Romawi. Setiap kali dia diberi air minum, bukannya diminum tetapi malahan dipergunakan untuk mencuci tangannya. Pada akhirnya rabi ini hampir mati kehausan, karena ia bertekad untuk mematuhi peraturan mengenai ketidaknajisan daripada untuk memuaskan dahaganya. Bagi orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, itulah yang dinamakan agama. Ritus, upacara, dan peraturan seperti itulah yang menurut mereka merupakan hakikat ibadah kepada Allah. Menaatinya berarti menyenangkan hati Allah; melanggarnya berarti berdosa.

Kalau memang demikian, apakah hidup yang berdasarkan ritual keagamaan seperti itu yang disebut sebagai arti ibadah sejati kepada Allah?

Jemaat yang diberkati Tuhan,

Orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memelihara banyak aturan atau “adat istiadat nenek moyang” (ayat 3, 5). Mulai perkara makanan (halal atau haram), sunat, sampai pada masalah persembahan. Sebenarnya, banyak aturan adat dan agama yang pada awalnya berhubungan dengan kesehatan. Contohnya, daging babi yang disebut makanan haram untuk dimakan. Padahal, sebenarnya daging babi dilarang karena alasan kesehatan. Daging babi banyak mengandung lemak yang tidak baik bagi kesehatan jika dimakan terlalu banyak. Begitu pula dengan perintah sunat dan jilbab. Jilbab diwajibkan karena di daerah gurun pasir sering terjadi badai pasir yang dapat mengganggu rambut dan kulit wajah. Juga ada aturan bahwa mereka harus mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan. Apa yang salah dengan mencuci tangan? Bukankah perintah ini sering kita dengar sewaktu kita kecil, baik di rumah maupun di sekolah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *