Renungan Berjalan bersama Tuhan

Bagaimana Aku Membalas Tuhan?

Bagaimana Aku Membalas Tuhan?

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Mazmur 116:1-19

Paulus telah membahas tentang Allah sebagai Sumber dari segala sumber, yakni sumber ketekunan dan penghiburan, sumber pengharapan, dan sumber damai sejahtera. Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena kita memiliki Allah yang demikian! Allah menjadi Sumber yang tak henti-hentinya memancarkan air kehidupan. Kapan pun kita membutuhkan dan bagaimanapun keadaan kita, ketika kita membutuhkan-Nya, Sumber itu terus memancarkan air kehidupan yang membuat hidup kita terus mengalami kesegaran. Dia senantiasa memberikan penghiburan, pengharapan, dan damai sejahtera dalam seluruh hidup kita. Dia senantiasa menopang hidup kita, mengangkat kita pada saat kita jatuh, dan menuntun kita pada saat kita berjalan, bahkan memapah kita pada saat kita sudah tidak kuat lagi berjalan. Kita pasti pernah mengalami pengalaman-pengalaman seperti itu. Saat ini ada beberapa saudara kita yang menanggung beban berat dalam hidupnya.

Mereka yang bergumul dengan berbagai penyakit, bahkan penyakit terminal yang dapat mengakhiri hidup mereka. Bukan itu saja, masih banyak kebutuhan lain yang lebih besar, yakni biaya pengobatan yang begitu tinggi, bahkan ada juga yang sudah tidak kuat lagi untuk mengobati dirinya. Namun, apa yang terjadi dengan keadaan seperti itu? Banyak di antara saudara kita yang menjalani hidupnya hari demi hari hanya dengan bersandar pada kekuatan Tuhan. Tidak ada kekuatan lain yang dapat menopang hidupnya selain Tangan-Nya yang tidak kelihatan.

 

Kita semua pasti pernah merasakan bagaimana tangan Tuhan menolong dan menopang kehidupan kita di kala kita mengalami masalah di tempat kerja, dalam rumah tangga, dalam relasi dan komunikasi kita dengan orang lain, dengan anggota keluarga kita sendiri, dan sebagainya. Semua itu bisa menjadi konflik berkepanjangan, satu konflik disusul konflik yang lain. Namun, dengan tangan-Nya yang menopang kita, semua itu bisa dijalani dengan baik. Ada jalan keluar yang indah, yang tak pernah kita pikirkan. Dan akhirnya, semuanya bisa dilalui dengan damai sejahtera.

 

Allah adalah Sumber penghiburan dan pengharapan. Dia memberikan damai sejahtera dan kekuatan kepada kita dalam menjalani kehidupan ini. Tangan-Nya selalu menyertai kita. Selanjutnya, timbul pertanyaan lain, “Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mazmur 116:12). Pertanyaan ini muncul dalam pergumulan pemazmur. Kalau Tuhan itu sudah begitu baik bahkan sangat baik kepada kita, maka bagaimana ia dapat membalas kebajikan Tuhan? Kebajikan Tuhan itu sudah menyertai kita sehingga kita dimampukan menjadi orang yang menikmati damai sejahtera-Nya. Apa yang dapat ia berikan untuk Tuhan? Pemazmur tidak mau menjadi anak-anak Tuhan yang hanya menerima berkat-Nya. Pemazmur sungguh-sungguh bergumul, kalau kasih karunia dan anugerah Tuhan itu sudah dilimpahkan ke dalam hidupnya, maka pertanyaannya adalah apa yang sudah ia berikan kepada Tuhan? Memang Tuhan tidak pernah meminta kembali apa yang sudah diberikan-Nya kepada kita, tetapi pemazmur menyadari keberadaan dirinya dan keberadaan Allah sehingga ia bertanya bagaimana ia dapat membalas kebajikan Tuhan. Sesungguhnya, kita tidak mungkin sanggup membalas kebaikan Tuhan, dan pemberian-Nya tak mungkin dibalas dengan apa pun selain dengan ketaatan dan kesetiaan kita kepada-Nya. Itulah yang Tuhan kehendak dari kita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *