Khotbah Perjanjian Baru

Bahagia Sejati

Kedua, Lapar dan Haus akan Kebenaran

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Matius menambahkan: “lapar dan haus akan kebenaran“. (Matius 5:6). Maksudnya, orang yang berbahagia adalah orang yang sadar bahwa jiwanya lapar dan haus, dan bahwa hanya Tuhan yang bisa memuaskannya, oleh karenanya dia tidak berusaha memuaskan kehausannya itu dengan kesenangan yang ditawarkan oleh dunia ini, melainkan dengan mencari Tuhan. Semakin lapar dan haus semakin mencari Tuhan dan semakin mencari Tuhan semakin dipuaskan. Itulah kebahagiaan sejati.

Ketiga, Memiliki Dukacita yang Kudus

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.” 2 Korintus 7:10 “Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” Jadi, dukacita yang kudus adalah dukacita karena sadar bahwa dirinya berdosa, dan bahwa hanya salib Kristus yang bisa menghapus segala dosanya, oleh karenanya mau percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat satu-satunya. Bahagia karena diampuni dosanya dan diterima sebagai anak Allah oleh karena pengorbanan Kristus, lebih dari pada bahagia karena mendapat segala harta.

Keempat, Sabar Menderita karena Iman kepada Kristus

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.” Orang yang sabar menderita karena iman kepada Kristus adalah orang yang berbahagia karena kemuliaan kekal yang disediakan Allah jauh melampaui segala penderitaan saat ini.

Jadi, kunci hidup bahagia  adalah sadar siapa diri kita yang sesungguhnya, miskin, lapar dan haus, binasa dalam dosa dan hidup di dunia berdosa yang cenderung melawan  kebenaran, oleh karenanya, tidak bisa tidak percaya dan menerima Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan juruselamat secara pribadi serta menundukkan diri sepenuhnya ke bawah otoritas Allah.

Bagi orang yang demikian, kondisi jasmaniah: kaya atau miskin, kenyang atau lapar, senang atau susah, dikasihi oleh manusia atau dibenci, dirangkul atau dikucilkan, dipuji atau dibenci, diterima atau ditolak oleh manusia, tidak ada pengaruhnya apa-apa, sebab mereka menggantungkan kebahagiaannya bukan kepada semuanya itu, melainkan kepada Allah yang berkuasa memberikan kemuliaan kekal lebih dari yang bisa kita pikir dan harapkan.

Sebaliknya, menggantungkan kebahagiaan kepada kekayaan, dan semua yang ditawarkan oleh dunia, adalah suatu kebodohan, sebab semua itu bukan hanya tidak bisa menolong, melainkan juga membawa kepada kehancuran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *