Khotbah Perjanjian Baru

Bahaya Kekuatiran

Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Matius 6:25-34

Bagian ini (6:25-34) masih berkaitan erat dengan bagian sebelumnya (6:19-24). Keduanya sama-sama membicarakan tentang materi. Kata sambung “karena itu” di awal ayat 25 menyiratkan bahwa 6:25-34 merupakan kelanjutan atau, lebih tepat, aplikasi dari 6:24. Maksudnya, orang yang mendedikasikan hidup hanya kepada Allah saja – bukan sekaligus pada Mamon – pasti tidak akan membiarkan diri dikuasai oleh kekuatiran. Bagi dia yang paling penting adalah Allah, bukan materi. Ia tidak akan memusingkan sesuatu yang tidak terlalu penting.

Apa yang diajarkan Tuhan Yesus di 6:25-34 tentu saja tidak berarti bahwa kita tidak perlu memikirkan kebutuhan sehari-hari. Memikirkan sesuatu berbeda dengan menguatirkan hal tersebut. Kuatir berarti menaruh perhatian yang berlebihan pada sesuatu sampai orang tersebut gagal menaruh keyakinan dan pengharapan yang sepantasnya pada Allah (ayat 30 “hai orang yang kurang percaya?”).

Teks ini juga tidak melarang kita untuk bekerja keras bagi kebutuhan kita atau mempersiapkan masa depan. Allah seringkali memenuhi kebutuhan melalui kerja keras dan perencanaan hidup yang baik. Kita tidak boleh menyelubungi kemalasan dalam bekerja dan merencanakan hidup dengan jargon-jargon rohani seperti “berserah penuh pada Allah” atau “tenang dalam pemeliharaan Tuhan”.

Karena kekuatiran tidak sesuai dengan logika kehidupan (ayat 25-30)

Larangan untuk kuatir muncul tiga kali di 6:25-34 (ayat 25, 31, 34). Ketiganya sama-sama dimulai dengan kata sambung “karena itu” atau “sebab itu” (dia touto di ayat 25, oun di ayat 31 dan 34). Pemunculan ini membantu kita untuk menemukan tiga alasan mengapa kita tidak boleh kuatir.

Sebagian orang Kristen beranggapan bahwa pemikiran logis adalah musuh iman. Bagi mereka, iman sepenuhnya masalah hati dan perasaan. Pemikiran semacam ini jelas tidak tepat. Allah yang trans-rasional (melampaui akal) tidak anti terhadap rasio. Ia adalah Allah yang rasional. Ia juga telah menciptakan dunia dan tatanan di dalamnya secara rasional sehingga dapat dipahami oleh manusia sebagai makhluk rasional. Itulah yang sedang diajarkan oleh Tuhan Yesus di ayat 25-30.

Pemikiran logis membantu kita untuk memahami bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting daripada makanan-minuman dan pakaian (ayat 25). Manusia makan supaya bertahan hidup. Bukan hidup untuk makan. Jadi, kehidupan lebih penting daripada makanan. Manusia berpakaian untuk menutupi tubuhnya. Bukan tubuh untuk pakaian. Jadi, tubuh lebih penting daripada pakaian. Sarana tidak pernah menjadi lebih penting daripada tujuan.

Menguatirkan makanan-minuman dan pakaian merupakan tindakan yang tidak rasional. Jika hidup dan tubuh kita saja yang lebih penting dan berada di luar kendali kita telah dipercayakan Allah kepada kita, masakan Allah tidak mampu menyediakan apa yang dibutuhkan oleh hidup dan tubuh kita? Kita tidak berkuasa atas detak jantung, aliran darah, atau proses biologis lain dalam tubuh kita, namun kita tidak pernah menguatirkan hal-hal tersebut. Lalu, untuk apa kita menguatirkan hal-hal lain yang jauh lebih sederhana dan sepele daripada semua proses misterius tadi? Kekuatiran adalah hal yang tidak rasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *