Khotbah Perjanjian Baru

Bahaya Ketamakan

Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Matius 6:19-24

Kekristenan bukan hanya tentang praktek-praktek relijius tertentu, misalnya sedekah (6:1-4), doa (6:5-13), dan puasa (6:16-18). Kekristenan juga mencakup hal-hal praktis sehari-hari seperti harta (6:19-24) maupun kebutuhan sehari-hari (6:25-34). Tidak ada perbedaan antara yang sakral dan sekular. Pembedaan populer antara rohani dan jasmani merupakan dikotomi yang keliru dan tidak perlu. Ibadah kepada Allah tidak boleh dibatasi pada aktivitas, tempat, dan hari tertentu.

Tidak sulit untuk menemukan dukungan bagi kebenaran ini. Kedaulatan Allah yang mutlak atas segala sesuatu membuat segala sesuatu bersentuhan dengan Dia. Dengan demikian segala sesuatu adalah (seharusnya) rohani. Cara kita memandang dan memperlakukan harta (6:19-24) juga termasuk salah satu area yang berada di bawah ke-Tuhanan Kristus.

Akar persoalan: ketamakan (ayat 19-23)

Pembacaan secara sekilas mungkin menimbulkan kesan bahwa Tuhan Yesus sangat anti terhadap kekayaan. Kepemilikan harta pada dirinya sendiri dipandang keliru. Tabungan dan investasi masa depan ditentang. Asuransi sebagai sebuah proteksi pun dilarang.

Kesan semacam ini jelas keliru. Alkitab tidak pernah melarang kepemilikan harta. Perintah ke-10 (“Jangan mengingini harta milik sesamamu”) bertujuan untuk melindungi harta pribadi masing-masing orang. Nasihat untuk belajar kepada semut yang menyiapkan perbekalan di saat susah (Ams 6:6-8; 30:25) menyiratkan bahwa kerja keras, tabungan, dan asuransi pada dirinya sendiri tidaklah salah. Allah tidak anti terhadap kekayaan.

Yang menjadi inti masalah di ayat 19-23 adalah ketamakan, bukan harta. Sama seperti ajaran Paulus, akar segala kejahatan bukanlah uang, melainkan cinta uang (1 Tim 6:10). Ada beberapa petunjuk dalam teks yang mengarah pada kesimpulan ini.

Pertama, kata “bagimu” (hymin) di ayat 19-20. Kata ini muncul dua kali, namun penerjemah LAI:TB lalai menerjemahkan yang pertama. Ayat 19a seharusnya berbunyi: “Janganlah kalian mengumpulkan bagi kalian (hymin) harta di atas bumi ini”. Kelalaian ini cukup disayangkan, sebab inti larangan justru terletak pada kata hymin. Kata ini menyiratkan orang yang mengumpulkan harta secara egois. Mereka hanya mementingkan diri sendiri dan keluarganya. Bukan orang lain. Bukan kerajaan Allah.

Kedua, kata “hati” (kardia) di ayat 21. Ayat ini menerangkan bahwa yang dipersoalkan bukanlah jumlah harta, tetapi posisi hati. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa ketamakan bukan hanya menjadi milik orang-orang kaya. Siapa saja, termasuk orang miskin dan sederhana, berpotensi terjerumus pada ketamakan.

Ketiga, metafora mata di ayat 22-23. Ungkapan “mata adalah pelita tubuh” (ayat 22) mengajarkan bahwa seluruh aktivitas seseorang ditentukan (atau, paling tidak, dipengaruhi) oleh mata. Bagi kita yang tidak tuna netra maupun tidak terbiasa, seluruh aktivitas kita sehari-hari membutuhkan mata.

Secara metaforis, mata menyiratkan sebuah cara pandang. Ini berbicara tentang nilai dan arti hidup. Ini tentang fokus dalam kehidupan. Cara pandang mempengaruhi seluruh tindakan. Jika seseorang menganggap harta sebagai hal yang paling penting, orang tersebut tentu akan mengejarnya sekuat tenaga. Seluruh waktu, tenaga, dan pikiran dicurahkan pada harta. Hal-hal lain menjadi tidak terlalu berarti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *