Renungan Berjalan bersama Tuhan

Baiklah Kita Turun

Baiklah Kita Turun

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Kejadian 11:1-9

“Baiklah Kita turun.” Perkataan itulah yang diucapkan oleh Allah bagi manusia yang diciptakan-Nya. Setelah mereka berkembang dan bertumbuh menjadi satu tatanan masyarakat yang besar, mereka menginginkan suatu perkumpulan bersama, yakni menjadi satu bangsa yang besar dan mendirikan menara. Tujuan utama mereka adalah membentuk kekuatan untuk melawan Allah yang mahakuasa. Mereka mengembangkan ambisi yang melawan Allah. Menara itu dibangun dengan puncak sampai ke langit supaya mereka mempunyai nama dan tidak terserak, padahal Tuhan tidak mempunyai tujuan yang demikian. Tujuan Allah menjadikan manusia supaya mereka memenuhi, menguasai, dan menaklukkan bumi. Manusia bisa terserak ke seluruh muka bumi ini untuk bekerja dan berkarya. Mereka diminta menggarap apa yang sudah disediakan oleh Allah dengan baik. Merawat dan mengembangkan menjadi suatu sarana dan tatanan kehidupan bagi umat manusia. Manusia bisa hidup dengan menikmati berkat-berkat-Nya. Semua kebutuhan kerja sudah disediakan dengan sempurna, manusia tinggal mengelola dengan baik dan menikmati hasil yang telah Allah sediakan.

 

Namun, apa yang terjadi dengan rencana Allah itu? Manusia tidak pernah mendengarkan dengan baik, bahkan mengembangkan ambisi yang melawan Allah. Pemberontakan merupakan wujud dari hati yang tidak taat. Lalu, mereka mendirikan menara, yang kemudian dikenal dengan Menara Babel, yang artinya Tuhan mengacaukan bahasa mereka dan menyerakkan mereka ke seluruh bumi.

 

Apa yang dikatakan Alkitab ketika mereka sedang membangun menara itu? Firman Tuhan menyatakan, “Turunlah Tuhan …. Baiklah Kita turun” (Kejadian 11:5,7). Tuhan Pencipta langit dan bumi, Allah Tritunggal, turun ke dunia ini. Untuk apa? Tak lain untuk membereskan pekerjaan manusia yang tidak pernah beres! Untuk mengatur pekerjaan manusia yang tidak mau diatur! Untuk menata dengan baik garapan manusia yang selalu semrawut karena kemauan hatinya sendiri dan kehendaknya sendiri. Allah yang mahakuasa mengambil tindakan langsung untuk menata kehidupan manusia. Apa yang dilakukan oleh Allah? Dia datang untuk mengacaukan bahasa mereka. Pada saat Tuhan turun tangan, manusia menjadi tidak mengerti bahasa mereka satu dengan yang lain. Pada saat itu juga, mereka benar-benar mengalami kekacauan yang besar karena mereka tidak bisa saling berkomunikasi. Tidak ada jalan lain selain mereka membentuk kelompok dengan orang-orang yang memiliki bahasa yang sama dan kemudian mereka terserak! Mereka pergi mencari daerah mereka masing-masing untuk melanjutkan hidup mereka. Itulah karya Tuhan yang luar biasa agar manusia memenuhi seluruh bumi untuk menggarap bumi dengan penuh tanggung jawab. Marilah kita taat sebelum Tuhan turun! Amin.

 

Pokok Doa:

  1. Tuhan, ajarlah aku untuk taat dan setia kepada kehendak-Mu guna menggarap dan memelihara bumi ini dengan penuh tanggung jawab, bukan untuk mendirikan menara Babel bagi diri sendiri. Pimpinlah pekerjaanku, karierku, dan semua pengembangan diriku sehingga membentukku menjadi hamba-Mu yang rendah hati.
  2. Tuhan, kami berdoa untuk gereja-gereja dan lembaga-lembaga Kristen yang berhasil mengembangkan pelayanannya, bukan untuk kebanggaan diri dan juga bukan untuk membangun menara Babel bagi diri mereka sendiri. Jika semakin besar, itu berarti Tuhan semakin mengembangkan pelayanannya. Biarlah itu dilakukan dengan rendah hati dan takut akan Engkau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *