Renungan Berjalan bersama Tuhan

Bapa Memberikan yang Terbaik

Bapa Memberikan yang Terbaik

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Roma 8:31-39

Biasanya seorang ayah pasti rela memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Jika mereka meminta sesuatu yang mereka butuhkan, tidak mungkin sang ayah memberi ala kadarnya atau dengan sembarangan sekalipun permintaan itu terkait dengan kemampuan situasi dan kondisi ekonominya. Ada orang yang tidak mampu, tetapi ketika anak-anak yang dikasihinya meminta sesuatu dan memang permintaan itu penting, maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya. Mengapa demikian? Karena ada ikatan kasih yang tidak dapat dipisahkan oleh apa pun. Kasih antara bapa dan anak; kasih antara ibu dan anak.

 

Dalam pelayanan Anak Asuh di pegunungan Tengger, kita akan menjumpai banyak orangtua yang bekerja keras untuk bercocok tanam. Satu-satunya mata pencaharian yang dapat dikerjakan adalah bercocok tanam. Banyak orang menanam sayur kubis karena memang itu adalah salah satu tananaman sayuran yang diunggulkan untuk dipasarkan. Banyak juga yang menanam singkong, jagung, ketela untuk mereka makan setiap hari. Dari pagi sampai petang para bapak bekerja di sawah, seluruh waktunya dihabiskan di ladang. Bukan saja mereka bekerja untuk mengisi kebutuhan perut, namun banyak di antara mereka yang menabung sedikit demi sedikit untuk biaya sekolah anak-anaknya. Sang bapak mengatakan kepada anak-anaknya, “Biarlah Ayah yang yang susah mencari nafkah, tetapi yang penting kalian belajar baik-baik. Jadilah anak yang pandai dan takut akan Tuhan. Belajarlah yang baik supaya kelak tidak seperti Ayah yang bekerja keras membanting tulang dari pagi sampai malam dengan hanya bisa mendapatkan beberapa puluh ribu rupiah. Kamu harus sekolah supaya masa depanmu lebih enak daripada ayahmu ini.” Itulah yang selalu dikatakan seorang ayah kepada anak-anak mereka. Kata-kata dan nasihat yang keluar dari hati sang ayah yang mengasihi anak-anaknya.

 

Hal yang sama juga dikerjakan oleh Allah karena kasih-Nya kepada manusia. Paulus berkata, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32). Kasih Allah kepada manusia yang berdosa itu diwujudkan dengan menyerahkan Anak-Nya yang tunggal bagi kita semua. Anak-Nya diserahkan untuk kita untuk menggantikan kita dan menebus dosa-dosa kita. Bukankah hukuman atas dosa adalah maut? Karena itu ketika Tuhan Yesus diserahkan kepada kita, Dia turun ke dalam kerajaan maut supaya kita tidak binasa untuk selama-lamanya. Kasih Allah Bapa mendorong-Nya untuk melakukan perkara-perkara yang besar. Marilah kita semakin mengenal dan menghayati Allah Bapa kita dengan benar. Dia Bapa yang penuh kasih, bahkan sumber kasih yang sejati. Amin.

 

Pokok Doa:

  1. Tuhan, berilah kasih-Mu di dalam hidupku agar dapat memberikan dorongan yang kuat kepadaku untuk melakukan semua aktivitas dengan baik: di pekerjaan, di pelayanan, di keluarga, dan di masyarakat. Biarlah kasih itu mendorongku untuk memberikan kesaksian yang baik dan benar sebagai anak Tuhan.
  2. Tuhan, berilah kepada gereja-Mu kasih yang melimpah sehingga mampu memenuhi kebutuhan seluruh jemaat dan masyarakat. Biarlah kasih itu nyata dalam tindakan dan perilaku kami, dan gereja dapat berperan aktif di dalam masyarakat serta menjadi berkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *