Renungan

Bebal

Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya.

(Amsal 18:2)

Seorang anak tertangkap basah menyontek saat ujian sedang berlangsung. Guru menegurnya dan anak itu memberikan beberapa alasan mengapa ia menyontek. Bukannya mengakui kesalahan, anak itu mencoba untuk membenarkan tindakannya. Hal yang seperti ini terjadi berulang kali. Jika Anda adalah guru tersebut, apa yang akan Anda lakukan terhadap murid itu?

Seorang karyawan salah melaksanakan perintah dari atasannya. Bosnya menegur dan memberitahu ulang bagaimana pekerjaan itu harus dilakukan. Si karyawan mengangguk tanda mengerti, tetapi keesokan harinya ia kembali melakukan kesalahan yang sama. Si bos kembali menegur, tetapi karyawan itu mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya sendiri. Jika Anda adalah bos tersebut, apa yang akan Anda lakukan terhadap karyawan itu?

“Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya” (Amsal 18:2).

Amsal ini menegaskan ciri khas orang-orang bebal. Orang-orang Bebal adalah orang yang tidak suka mendapatkan penjelasan yang benar, sembari bersikukuh membela diri dalam kesalahan. Orang bebal adalah mereka yang menutup telinga terhadap kebenaran, tetapi terus membuka mulut untuk membela dirinya sendiri. Tentu saja menjengkelkan sekali berurusan dengan orang bebal. Namun, jangan-jangan menurut orang lain kitalah orang-orang bebal itu.

Lawan dari kebebalan adalah kerendahan hati. Rendah hati berarti bersedia membuka telinga terhadap kebenaran, membiarkan kebenaran itu mengubah hati dan pikiran, sembari menahan bibir untuk tidak berkata sembarangan.

Sikap kita terhadap kebenaran akan menunjukkan siapa diri kita: orang yang bebal atau rendah hati.

(Wahyu Pramudya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *