Khotbah Perjanjian Lama

Bebas dari Belenggu Penghakiman

Oleh: Pdt. Ruth Retno Nuswantari 

2 Samuel 12:1-25

“Dia harus dihukum mati!” Itulah kata-kata Daud yang diucapkan dengan kemarahan yang menyala-nyala, ketika nabi Natan datang kepadanya dan menceritakan tentang seorang kaya yang merapas seekor domba, harta satu-satunya dari seorang janda miskin untuk menjamu tamunya. Kemarahan Daud wajar, bukan? Si orang kaya itu kejam dan tidak berperikemanusiaan. Kalau Daud tidak marah justru  hati huraninya perlu dipertanyakan. Masalahnya adalah, Daud telah melakukan hal yang sama, bahkan lebih kejam: merebut istri orang dan membunuh sang suami dengan menggunakan pihak lain, “lempar batu sembunyi tangan”, dan dia tidak sadar. Dengan kata lain, Daud sedang melakukan apa yang Tuhan Yesus katakan: “Jangan menghakimi!” (Matius 7:1). Daud melihat selumbar di mata di orang kaya itu tetapi tidak bisa melihat balok di dalam matanya sendiri.

Ketika pertama kali kita membaca kisah ini, apa yang ada di pikiran kita? Menyalahkan Daud? Memandang rendah dia? Tidak habis pikir mengapa Daud bisa berbuat demikian? Bukankah Daud tahu firman Tuhan? Mengapa melakukan dosa sebesar itu bisa tidak sadar? Kalau kita berpikir demikian, berarti kita tidak berbeda dengan Daud. Masalah Daud adalah masalah kita semua. Natur dosa kita membuat kita mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak bisa atau sulit melihat kesalahan kita sendiri, walaupun sebenarnya kesalahan kita jauh lebih besar dari kesalahan orang lain. Kita semua rawan untuk jatuh ke dalam dosa menghakimi orang lain.

Mengapa Kita Mudah Melihat Kesalahan Orang Lain dan Sulit Melihat Kesalahan Diri Sendiri?

Pertama, karena melihat kesalahan diri sendiri itu menyakitkan dan memalukan sehingga kita enggan melihatnya. Kita lebih suka mem “peti es” kannya dan berusaha melupakannya.

Kedua, karena melihat kesalahan orang lain itu memberikan perasaan aman, walau perasaan aman yang palsu. Kita merasa aman karena setidaknya masih ada orang yang lebih buruk dari kita.

Apa Akibatnya?

Pertama, menghancurkan diri kita sendiri

Semakin banyak kesalahan yang kita “peti es” kan dan semakin banyak rasa aman palsu yang kita hidupi, semakin membuat hati kita keras, tidak peka, dan akhirnya buta terhadap kesalahan diri sendiri. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, suatu saat pasti hancur. Mengapa? Karena, semua hal yang berusaha kita lupakan tidak pernah benar-benar hilang dari diri kita. Sebaliknya, akan tersimpan di dalam gudang bawah sadar kita dan mempengaruhi cara berpikir, emosi, sikap dan tingkah laku kita tanpa kita sadari, menjadi seperti boom waktu yang suatu saat akan meledak.

Ada seorang pemuda yang cerdas dan memiliki banyak potensi, tetapi hidupnya hancur karena sejak kecil terbiasa menyembunyikan setiap kesalahan yang dia lakukan. Mula-mula dia melakukan hal itu untuk melindungi diri karena ayahnya sangat keras, setiap kesalahan kecil dihukum cambuk sampai berdarah-darah, tetapi kemudian hal tsb menjadi mekanisme yang membelenggu. Akibatnya hatinya menjadi keras dan buta terhadap dosanya sendiri. Seiring dengan itu, dia menjadi semakin kritis dengan setiap kesalahan orang lain yang sebenarnya adalah pantulan dari dosanya sendiri. Setelah dewasa, dia berpindah-pindah pekerjaan dan selalu berujung pemecatan. Sayang sekali dia bukannya mawas diri, tetapi justru setiap kali dia menyalahkan pihak perusahaan. Akibatnya,  hidupnya terus berputar-putar tanpa arah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *