Renungan

Belajar dari Mandela

Oleh: Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya

Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka.

(Amsal 31:8-9)

“Tidak ada seorang pun yang lahir dan langsung membenci orang lain karena perbedaan warna kulit, latar belakang, atau agama. Orang diajari untuk membenci, dan jika mereka dapat belajar untuk membenci, mereka juga dapat diajari untuk mengasihi sebab sifat mengasihi jauh lebih alami di hati manusia daripada membenci.”

Perkataan ini diungkapkan oleh Nelson Mandela. Mandela adalah presiden Afrika Selatan pertama yang berkulit hitam dan meraih Nobel Perdamaian untuk perjuangannya membela kesamaan hak orang-orang kulit hitam. Sebuah perjuangan yang tidak mudah namun kini telah mengubah Afrika Selatan dan memengaruhi dunia ini.

“Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka” (Amsal 31:8-9).

Penulis Amsal mengajak pembacanya untuk tidak memperhatikan diri sendiri semata, tetapi juga bersedia berjuang untuk kehidupan orang lain. Mulut kita harus berbicara demi orang-orang yang tidak mampu bersuara, tangan kita harus membebaskan mereka yang terbelenggu oleh orang lain dalam kemiskinan dan penindasan. Hidup ini bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga bagi orang lain.

Pandanglah ke sekeliling kita. Ada begitu banyak orang yang bergumul dengan kemiskinan dan menjalani hidup di bawah penindasan orang lain atau struktur tertentu. Kita bisa saja mengatakan bahwa itu adalah kesalahan mereka sendiri. Perkataan yang tidak mengubah apa pun, kecuali mengurangi rasa bersalah kita. Kita dapat juga berbuat sesuatu bagi sesama dengan memberikan bantuan keuangan atau turun tangan dengan mengerjakan sesuatu agar orang lain mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Hiduplah untuk Tuhan dengan melayani sesama manusia. Kasihilah apa yang Tuhan kasihi, yakni dunia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *