Renungan Berjalan bersama Tuhan

Belas Kasihan Si Fasik

Belas Kasihan Si Fasik

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

“Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam.” (Amsal 12:10)

Adakah di antara Saudara yang punya hobi memelihara binatang? Tentunya, bukan sekadar memasukkan binatang itu ke dalam kandang, atau membiarkannya berkeliaran di halaman atau di rumah kita, dan cukup memberi makan minum. Tentunya tidak demikian, bukan? Binatang kesayangan itu, seperti anjing, kucing, ikan, ular, kera, burung, kura-kura, dan masih banyak lagi jenisnya, pasti dipelihara dengan baik. Makanannya bervitamin, ada sabun dan shampo khusus, ada salon untuk merawat bulu-bulunya supaya tidak rusak, dan punya dokter hewan pribadi. Binatang itu pasti dipelihara dengan hati penuh kasih sayang. Kalau mati pasti ditangisi dengan sedih, bahkan sampai berlarut-larut. Semua sahabatnya diberitahu bahwa binatang kesayangannya sudah mati.

Rupanya Amsal memperhatikan orang-orang yang mempunyai hobi memelihara binatang. Orang yang benar-benar memelihara binatang tahu pasti apa yang terjadi dengan hewan peliharaannya. Ia sangat memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi, misalnya ketika binatang peliharaannya tampak kurang sehat, tidak mau makan, tubuhnya lemas, jalannya pincang, dan sebagainya. Ia memelihara dengan hati yang tulus. Sikap yang demikian dibandingkan oleh Amsal dengan orang fasik yang mengasihi sesamanya. Ternyata sangat berbeda antara orang benar yang mengasihi hewan peliharaannya dan orang fasik yang mengasihi sesamanya.

Kasih di tangan orang fasik mengandung berbagai kepentingan yang menguntungkan diri sendiri dan bukan pada orang yang dikasihinya. Kelihatannya mengasihi, tetapi di balik semuanya itu ternyata begitu kejam memperlakukan sesamanya. Ada pepatah mengatakan, “Ada udang di balik batu.” Ada banyak kepentingan demi keuntungan diri sendiri di balik belas kasihan yang diberikan kepada sesama. Ada orang yang memperlakukan karyawannya dengan penuh belas kasihan dan semua kebutuhannya dicukupi. Ia memang diberikan kuasa yang besar atas perusahaannya. Gajinya melebihi semua orang yang setara. Namun, di balik gaji itu, ada tuntutan target yang melebihi kemampuannya. Secara tidak langsung, semua hak pribadinya sudah dibeli dengan gaji yang mahal. Ia kehilangan hak atas keluarganya karena sudah tidak ada waktu lagi bagi pasangan dan anak-anaknya. Ia kehilangan hak pribadinya untuk beristirahat pada jam-jam istirahat. Ia kehilangan hak untuk menjaga kesehatan tubuhnya karena harus bekerja lembur. Kasih atau belas kasihan dipakai sebagai manipulasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau sebagai alat untuk memperbudak secara halus. Di balik semuanya itu, ada tindakan kejam bahkan tidak berperikemanusiaan. Ia mampu membuat orang lain terkesima, terkagum-kagum, bahkan memberi hormat pada bos yang kelihatannya baik. Namun, di balik semua itu, ada tujuan dan sasaran untuk mendapatkan keuntungan besar. Bukankah para pengedar narkoba memakai cara demikian? Dengan iming-iming uang yang menggiurkan dalam sekejap, ia ternyata menjerumuskan orang dalam penjara hidup, sementara sang bos tidak pernah tertangkap atau tidak ditangkap. Ketika orang fasik mengasihi, kasih itu sebenarnya bukan kasih, karena kasih sudah diperalat, dimanfaatkan, atau disalahgunakan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Apakah menurut Amsal hal itu disebut belas kasihan? Bukan! Masih lebih baik orang benar yang memelihara binatangnya. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *