Khotbah Perjanjian Lama, Renungan Berjalan bersama Tuhan

Belum Cukupkah Kamu.

c. Motifasi Pemberontakan

Bila kita amati secara terbuka maka dua pemberontakan ini memiliki benang merah yang sama, yaitu mereka sebuah sikap merasa dirinya mampu menggantikan orang lain dan tidak mempercayai Allah.

Mereka merasa mampu melaksanakan kepemimpinan sebagai Imam yang menggantikan Harun, dan mampu menggantikan kepemimpinan Musa sebagai pemimpin bangsa Israel.

Dalam hati kecil, Korah, Datan dan Abiram seakan berkata bahwa “Allah salah menempatkan mereka sebagai imam dan pemimpin, kurang becus mereka memimpinya.”

Tindakan yang salah, diresponi pula dengan tindakan selanjutnya yang salah. Tidak mengakui akan keberadaan Musa dan Harun sebagai orang pilihan Allah adalah sama artinya dengan tidak mengakui Allah sebagai pemimpin. 

Salah menetapkan posisi akan membawa dampak bagi kehidupan kita, bukan hanya pribadi tapi juga orang lain.

Beberapa minggu yang lalu, seorang kawan baik saya bercerita kepada saya bahwa ia di datangi seorang kawan kita bersama, yang berprofesi sebagai pembisnis musiman, artinya yang sedang ngehits maka ia akan bisniskan.

Dia bertanya kepada kawan saya demikian, “bisakan engkau membuat label stiker seperti ini”

(sambil menunjukan gambar produk hand sanitizer yang terkenal)

“bisa” kawan saya menjawabnya. “tolong buatin dong, seperti ini komposisinya, cuma namanya saja yang diganti dan warnanya di bedain, terserah kamu deh, gimana bagusnya” Kemudian kawan saya ini mencoba bertanya:

“lah kalau gitu, komposisinya berbeda dong dengan produknya yang kamu punya”

Ia menjawab:“ya bedalah, tapi gak pa-palah, toh orang mana ada yang tahu dan teliti, yang penting sudah punya”

(salam) anda menangkap ada maksud di balik cerita yang barusan saya ceritakan. Sebuah produk hand sanitizer yang sudah memiliki brand terkenal dan telah melalui tes pengujian standar. Tiba-tiba standar yang resmi itu “ditembak” – “dicomot” – “diduplikasi” oleh sebuah produk yang ecek-ecek, tidak melalui tes pengujian standar, mencantumkan pada kemasanya produknya, lalu apakah yang akan terjadi?

  • Ketika kita melihat sebuah jabatan, kok rasanya enak ya, kemudian kita memaksa dan berupaya mendongkrak – menendang – dengan trik tertentu agar orang tersebut menjadi dan digantikan oleh saya.
  • Kita lihat seorang hamba Tuhan yang membawakan Firman Tuhan, kemudian kita berkata “kalau gitu doang, aku bisa deh menggantikanya”.
  • Kita lihat pelayan Tuhan (diaken / penatua / koordinator pelayan) dan kita berkata “kamu gak cocok melayani, banyak yang kacau, coba deh kalau aku, kayak gitu aja kagak bisa ?”
Mungkin kita menemukan adanya pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh mereka kurang dan belum berjalan dengan baik. Tapi kita bisa melihat disini bahwa motifasi yang salah akan berdampak pada tindakan-tindakan yang salah pula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *