Khotbah Perjanjian Lama, Renungan Berjalan bersama Tuhan

Belum Cukupkah Kamu.

(Salam) Sama seperti dalam pelayanan, demikian pula dengan pekerjaan kita, mungkin anda sedang bertanya dalam hatimu demikian: “Pak apakah boleh saya memiliki perusahaan yang besar dan banyak?”

Semua tergantung pada, apa yang melatar belakangi (memotifasinya) bila itu untuk menuntut penghargaan bagi kita agar orang memandang kita sebagai orang yang sukses, itu yang salah. Maka pastinya akan muncul banyak tindakan yang merugikan, seperti kapal yang ada di medan pertempuran, keluarga mu akan kacau porak poranda.

Beda dengan, saya mengembangkan potensi sebagai wujud dari sikap tanggung jawab saya kepada Tuhan, maka keluarga pun ibarat api yang menghasilkan bom semangat untuk terus maju di tengah permasalah dan keletihan dalam bekerja.

Lihatlah bahwa setiap pelayanan dan pekerja selalu dibungkus dengan sebuah motifasi, sekarang tergantung kepada kita semua, dan setidaknya semua motifasi tersebut akan diuji oleh waktu dan permasalahan, sehingga kita akan menemukan motifasi sesungguhnya dalam sebuah pelayanan atau di pekerjaan.

Dan nampak bukan, bahwa setiap motifasi berakibat pada tindakan selanjutnya. Motifasi yang baik akan nampak bahwa kita melakukan tindakan yang positif, sedangkan sebaliknya motifasi yang buruk akan nampak pula dengan kita melakukan tindakan yang negatif.

Lalu bagaimana saya menanggapi sebuah keadaan yang demikian?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Musa mendatangi dan bertanya kepada Tuhan (Bil 16:22), namun bila kita mengacu dalam Perjanjian Baru, maka kita akan mendapatkan konsep yang baru dalam penetapan dalam sebuah posisi.

Dalam perjanjian baru, khususnya dalam kitab 1 Korintus, meskipun ada begitu banyak isu atau status yang dilontarkan disana namun adanya sebuah isu dimana jemaat kristen di Korintus menolak kehadiran Paulus yang “berkedudukan – memiliki jabatan (posisi)” sebagai Rasul?

Dalam 1 Korintus 12:12-31, sebenarnya Paulus ingin menjelaskan tentang kesatuan dalam jemaat, dimana ada isu tentang perpecahan jemaat, sekaligus Paulus ingin menjelaskan tentang kedudukannya sebagai seorang Rasul.

Memang agak aneh, mengapa agak aneh?

Sebab gereja di Korintus adalah gereja yang di dirikan dan dirintis oleh Paulus, dan ketika ia akan hadir kembali ke Korintus, Jemaat Korintus mempertanyakan tentang posisi kerasulan dari Paulus? Aneh bukan

Hal ini saya seperti anda seorang bapak meninggalkan rumah untuk bekerja, pada sore harinya saat kembali ke rumah, anak anda berkata kepada anda, siapakah kamu? lalu untuk apa kamu datang kemari? kalau kamu pemilik rumah ini dan ayahku, mana buktinya?

Dalam konteks jemaat Korintus, kita bisa menemukan jawabanya di 2 Kor 3:3 … (kamu) Jemaat korintus adalah bukti dari kerasulanku. Sama seperti bapak tadi dia menjawab, kamu adalah buah hati dari bapak dan ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *