Renungan Berjalan bersama Tuhan

Berbagi Hidup

Berbagi Hidup

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Imamat 19:1-10

Allah kita adalah Allah Sang “Pemelihara” kehidupan umat-Nya. Pemeliharaan Allah itu bukan saja diwujudkan melalui keselamatan yang kekal di dalam Tuhan Yesus Kristus, melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Allah kita adalah Allah yang peduli terhadap seluruh pergumulan umat-Nya hari demi hari. Dan perhatian Allah bukan saja tercurah kepada mereka yang mempunyai kemampuan bekerja dan menjadi kaya, melainkan juga kepada mereka yang lemah dan tidak mampu. Allah berkata kepada bangsa Israel, “Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu. Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah Tuhan, Allahmu” (Imamat 19:9-10).

Allah memberikan aturan kepada bangsa Israel tentang bagaimana seharusnya mereka menuai hasil tanahnya: tidak diperkenankan untuk menyabit sampai bersih dan memungut yang ketinggalan. Demikian juga ketika memetik anggur, cukup satu kali saja, termasuk mengambil yang jatuh. Biarkan itu semua karena itu bagian dari mereka yang tidak mampu atau orang asing yang berjalan dan membutuhkan bekal dalam perjalanannya. Masih banyak orang yang membutuhkan bekal disekitar mereka, baik yang mereka kenal  maupun yang tidak mereka kenal. Ladang itu dibiarkan dengan sisa-sisa panen yang masih baru; bukan hasil petikan yang tidak laku atau yang sudah busuk.

 

Apa yang diajarkan Allah di sini? Jelas bukan peraturan untuk menuai, bukan undang-undang panen; melainkan lebih dari itu, yakni “Hati” yang berbelaskasihan. Bukan hati yang hanya mementingkan diri sendiri dan yang tidak pernah peka terhadap orang lain. Bukan hati yang penuh dengan keserakahan ketika melihat hasil panen yang menggembirakan. Bukan hati yang tidak mau berbagi kepada sesama. Bukan hati yang keras, yang membatu, yang hanya melihat hasil untuk kepuasan diri sendiri.

 

Allah ingin mengajarkan kepada Israel sebuah hati yang berbelaskasihan. Hati yang sadar bahwa hasil panen itu bukan dari usahanya sendiri, karena tidak ada seorang pun yang dapat menumbuhkan dari apa yang ditabur. Hanya Allah yang memberikan pertumbuhan pada semua benih yang ditaburkan. Manusia hanya menanti masa pertumbuhan sampai saatnya dituai. Pada masa penantian itu manusia hanya berharap pada anugerah Allah yang memberikan pertumbuhan karena manusia tidak mampu memberi kehidupan dalam pertumbuhan itu. Manusia diberi hak oleh Tuhan untuk menuai apa yang ditaburnya, tetapi dalam hal menuai itu juga bukan asal menuai. Tuhan memberikan aturan menuai, yakni sisakan sebagian hasil tuaian itu kepada mereka yang membutuhkan. Tidak asal sabit, pungut, dan petik, melainkan ada yang ditinggalkan bagi mereka. Ada hati yang mengasihi bagi mereka. Allah ingin menanamkan pola hidup berbagi dengan sesama. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *