Renungan Berjalan bersama Tuhan

Berhasil Dan Gagal

Berhasil Dan Gagal

Oleh: Pdt. Nathanael Channing

Amsal 17:17

Variasi hidup itu bermacam-macam. Jika mau digolongkan, maka akan ada dua golongan besar, yakni “berhasil atau gagal”. Di dalam bidang apa pun, baik di rumah tangga, pekerjaan, dan pelayanan, kita semua bisa berhasil atau gagal. Ketika kita memiliki anak-anak yang sudah menyelesaikan ujian dan ulangan kenaikan kelas. Mereka juga bisa berhasil atau gagal. Yang berhasil tentunya akan mengalami sukacita dan kegembiraan; sedangkan yang gagal akan mengalami kekecewaan, kesedihan, dan rasa malu. Namun, ada juga yang bersikap biasa-biasa saja. Orang menyebutnya “cuek”. Masa bodohlah jika berhasil atau gagal karena toh ia sendiri yang menjalani hidup ini, bukan orang lain. Ia tidak memedulikan orang lain, termasuk orangtuanya yang sudah membiayai sekolah atau kuliahnya dengan biaya yang tidak murah.

 

Jurang pemisah antara yang berhasil dan yang gagal semakin terpisah jauh, seperti jurang yang dalam. Yang berhasil bisa sama sekali tidak peduli dengan mereka yang gagal atau yang sedang terjatuh. Yang berhasil terus mengembangkan diri sendiri dengan gembira. Sebagai contoh, akhir-akhir ini, apa yang dilakukan anak-anak SMP dan SMA yang baru saja dinyatakan lulus? Mereka bisa bertingkah laku brutal. Baju seragam dicorat-coret dengan cat, rambut juga dicat warna-warni, sembari mengendarai motor berboncengan tiga atau empat orang tanpa mengenakan helm, bahkan dengan membuka baju mereka. Mereka melajukan motor tanpa menghiraukan rambu-rambu lalu lintas. Contoh yang lain, apa yang dilakukan oleh orang yang berhasil dalam pekerjaan atau bisnis mereka? Setiap kali berbicara, ia selalu membanggakan dirinya sendiri, keberhasilannya, kerja kerasnya, dan dengan begitu mudahnya meremehkan orang lain yang masih merangkak setapak demi setapak. Ia tidak mau berbagi resep keberhasilan ataupun memberikan pengarahan, mendorong semangat kerja, dan sebagainya. Ia justru bersikap menyakitkan, dengan mudahnya merendahkan mereka yang gagal, yang jatuh, dan belum berhasil. Dahulu mereka bisa bersahabat, tetapi dengan mudah bisa terpisah setelah yang satu berhasil dan yang lain gagal.

 

Tentunya akan ada banyak sikap yang bisa muncul. Yang berhasil akan meneruskan perjuangannya ke jenjang yang lebih tinggi, dan yang gagal akan terus berjuang agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Perasaan yang muncul pun berbeda. Yang berhasil akan bersukacita dan yang gagal akan bersedih, bahkan bisa putus asa. Sikap seperti ini pasti terjadi. Alangkah indahnya kalau yang bersukacita itu bisa berbagi dengan yang bersedih; yang berhasil bisa mendorong yang gagal; yang gagal benar-benar merasakan dukungan dan semangat yang besar dari orang yang berhasil. Dukungan yang paling menguatkan adalah dari rekan sendiri, sahabat-sahabat yang mau mengerti dan memahami yang gagal. Sahabat yang baik, tidak akan meninggalkan begitu saja mereka yang gagal. Justru ketika melihat ada yang gagal, maka yang berhasil itu seharusnya terus memberikan perhatian, menolong, dan menguatkan agar yang gagal dapat terus maju dengan penuh harapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *