Khotbah Perjanjian Lama

Beribadah Hanya kepada Tuhan

Beribadah Hanya kepada Tuhan

1 Samuel 7:1-4; 2 Raja-raja 17:24-41

oleh: Jenny Wongka †

Umat Israel adalah bangsa pilihan Tuhan, sejak semula Tuhan berlaku sangat baik kepada umat-Nya itu, seperti seorang ibu yang mengasihi dan merawat anak-anak-Nya, juga seperti gembala yang setia memelihara domba-domba-Nya. Kita belajar dari sejarah bahwa umat Israel sudah mengalami berkat-berkat Tuhan, namun mereka masih tegar tengkuk, sering meninggalkan Tuhan dan berbalik pada penyembahan berhala.

Tatkala menjadi nabi Tuhan, Samuel menemukan ada sejumlah umat Israel yang meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala, yaitu Baal dan Asytoret. Nabi Samuel sudah melihat kondisi ini dan menyadari bahwa hanya dengan cara menyingkirkan berhala-berhala itulah umat Israel dapat kembali bersungguh-sungguh melayani Tuhan Yang Benar dan Hidup. Selain itu, saat itu umat Israel mendapat serangan bertubi-tubi dari bangsa Filistin, kedua anak imam Eli yang jahat mencemari Bait Allah dan menindas rakyat. Akibatnya, kehidupan rohani dan moral umat berada dalam masa kegelapan yang amat pekat. Dalam kondisi serupa inilah Tuhan membangunkan hamba-Nya, Samuel, menetapkannya sebagai imam (1 Samuel 2:35) untuk menyelamatkan umat Israel.

Samuel adalah hamba pilihan Allah. Ia tahu bagaimana beribadah kepada Allah. Itulah sebabnya tatkala umat Israel sudah mulai terpengaruh dengan adat kebiasaan penduduk Kanaan, Samuel segera tampil mengumpulkan segenap umat Israel, mengumumkan agar mereka segera meninggalkan berhala dan kembali kepada Tuhan, dan hanya beribadah kepada Tuhan (1 Samuel 7:3-4). Ungkapan tersebut senada dengan Yosua, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang Sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!” (Yosua 24:15). Keputusan Yosua ini tak lain disebabkan ia mengenal Tuhan sebagai Allah Yang Benar dan Hidup.

Kita sering menempuh perjalanan yang salah dalam hal beribadah kepada Tuhan. Kelihatannya kita sudah percaya kepada Tuhan, sudah beribadah kepada-Nya, sudah turut melayani-Nya, namun kita masih belum diperkenan Tuhan. Mengapa? Bila kita merenungkan lebih dalam, hal ini disebabkan sikap ibadah kita yang salah.

1)  Ibadah yang Asal-asalan

Dari dua pembacaan Alkitab dari 1 Samuel 7:1-17 dan 2 Raja-raja 17:34-41, kita menemukan dua kisah yang sungguh sangat kontras. Dalam 1 Samuel 7:1-17 dicatat bahwa umat Israel menolak Tuhan dan ingin menyembah kepada allah lain. Sebaliknya, 2 Raja-raja 17:34-41 mencatat bahwa penduduk setempat beribadah kepada Tuhan, namun dengan sikap yang asal-asalan saja. Raja Asyur menyerang kota Samaria, dan menempatkan sejumlah penduduk dari bangsa lain di kota tersebut. Penduduk tersebut tidak mengenal Tuhan, tidak takut dan hormat kepada Tuhan. Tuhan membiarkan singa-singa masuk dan memangsa mereka. Raja Asyur menjadi takut, lalu meminta seorang imam di antara para tawanan di Samaria itu untuk datang mengajarkan kepada mereka cara beribadah kepada Tuhan. Penduduk takut dimangsa singa sehingga dengan asal-asalan mereka beribadah kepada Tuhan. Namun Alkitab mencatat, penduduk asing yang berdiam di Samaria itu tetap membuat dan menyembah berhala mereka. Di samping mendirikan mezbah untuk menyembah Tuhan, mereka juga menjadikan patung berhala sebagai allah (2 Raja-raja 17:8-33). Ibadah penduduk seperti ini dilandasi dengan kepura-puraan, sembrono, dan asal-asalan belaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *