Khotbah Perjanjian Lama

Berkat bagi yang Bersandar Pada-Nya

Tapi bagaimana jika ada orang percaya yang hidup bersandar pada Tuhan tapi tetap akhirnya mengalami malapetaka atau terbunuh? Seperti Kenjio Goto, Stefanus dan Yakobus? Lukas 16:22 mencatat bahwa Allah juga mengirimkan malaikat-Nya membawa orang percaya kehadapan-Nya, ”Kemudian matilah orang miskin itu (lazarus), lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham”. Inilah penghiburan sejati bagi orang percaya yang bersandar kepada Allah. Baik hidup maupun mati, Tuhan menyertainya.

Penyertaan Allah kepada kita umat-Nya secara sempurna digenapi oleh Yesus Kristus yang datang ke dalam dunia. Oleh sebab itu Yesus disebut sebagai Imanuel. Allah menyerta kita. ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita” (Matius 1:23). Yesus yang mati menanggung dosa-dosa umat-Nya telah bangkit kembali. Dengan kemenangan-Nya atas maut, Ia berjanji akan menyertai setiap kita murid-murid-Nya sampai kepada akhir zaman (bandingkan dengan Matius 28:19-20).

Pertanyaan pertama dalam buku Pengajaran Katekismus Heidelberg mengungkapkan tentang kebenaran ini: ”Apakah satu-satunya penghiburan Saudara, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati?” Dan jawabannya adalah: ”Bahwa aku, dengan tubuh dan jiwaku, baik pada masa hidup maupun pada waktu mati, bukan milikku, melainkan milik Yesus Kristus, Juruselamatku yang setia. Dengan darah-Nya yang tak ternilai harganya Dia telah melunasi seluruh hutang dosaku dan melepaskan aku dari segala kuasa iblis. Dia juga memelihara aku, sehingga tidak sehelai rambut pun jatuh dari kepalaku di luar kehendak Bapa yang ada di sorga, bahkan segala sesuatu yang terjadi akan berguna bagi hidup ku. Karena itu juga, oleh Roh-Nya yang kudus, Dia memberiku kepastian mengenai hidup yang kekal, dan menjadikan aku sungguh-sungguh rela dan siap untuk selanjutnya mengabdi kepada-Nya.”

Suatu kali ada pengantin baru yang tinggal di Amerika pergi honey-moon mengelilingi Amerika. Salah satu acara yang mereka adakan adalah mengikuti kapal pesiar beberapa hari. Saat dalam perjalanan dengan kapal di tengah lautan, ombak besar mengombang-ambingkan kapal mereka. Para penumpang semuanya menjadi ketakutan. Termasuk sang istri yang lagi honey-moon tersebut. Tapi yang mengherankan bagi si istri tersebut, ia melihat suaminya tenang-tenang saja.

Lalu dalam ketakutannya, sang istri berteriak kepada suaminya yang tetap duduk tenang meskipun ada badai besar mengombang-ambingkan kapal mereka. ”Hai suamiku, kenapa engkau tenang-tenag saja? Lihat ombak lautan yang begitu besar. Mungkin kapal kita segera akan tenggelam ke dalam lautan. Engkau dan aku akan mati jika kapal ini tenggelam!” Menanggapi perkataan istrinya, sang suami tiba-tiba mengambil dari tas nya sesuatu barang. Apa yang diambilnya? Rupanya ia mengambil sebuah pistol dari tasnya. Lalu ia menodongkan pistol tersebut kemuka istrinya sambil berkata,”Kamu takut tidak?” Istrinya spontan berkata, ”Ya tidak takutlah. Kamu kan mencintaiku. Maka pasti kamu tidak akan berbuat jahat kepadaku.” Lalu suami itu memasukkan kembali pistolnya ke tasnya. Dan ia berkata kepada istrinya, ”Ya itulah alasan kenapa aku tetap tenang-tenang saja di tengah badai ini. Seperti pistol ini ada di tanganku dan tidak mungkin aku gunakan untuk mencelakai orang yang aku kasihi. Demikian juga Tuhan yang mengendalikan angin badai dan ombak ini. Ia mengasihi kita, maka Ia tidak mungkin akan berlaku tidak baik kepada kita. Baik kapal ini selamat sampai di tujuan, ataupun terjadi sesuatu yang lain, semuanya ada dalam kendali Allah yang dalam Yesus sangat mengasihi kita.” Penjelasan sang suami tersebut membawa sang istri menjadi tenang hatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *