Renungan Berjalan bersama Tuhan

Berlagak Sok Kaya atau Sok Miskin?

Berlagak Sok Kaya atau Sok Miskin?

oleh: Pdt. Nathanael Channing

 

“Ada orang yang berlagak kaya, tetapi tidak mempunyai apa-apa, ada pula yang berpura-pura miskin, tetapi hartanya banyak” (Amsal 13:7).

Di pagi hari yang masih sejuk, banyak orang berdiri antre di loket pendaftaran Sekolah Dasar. Sekolah itu dikenal bermutu baik, memiliki guru-guru berpengalaman, dan mengasilkan anak didik yang cerdas. Boleh dikatakan sebagai sekolah unggulan. Namun, uang pendaftaran dan pembangunannya cukup mahal. Puluhan juta harus disediakan kalau mau masuk sekolah tersebut. Di antara banyak orang yang antre, ada seorang ibu berpakaian sederhana sekali,  bahkan cenderung agak kumal dan modelnya jadul.

Meskipun demikian, wajahnya halus dan tubuhnya tampak sangat terawat. Orang tetap saja kasihan melihat ibu itu.  Para orangtua membeli formulir dan mengisi nama, tanggal lahir, dan alamat rumah. Ibu tersebut menulis tinggal di daerah kumuh, berangkat dengan naik becak. Ibu itu juga menulis agar biaya pembangunan yang puluhan juta itu dibebaskan karena benar-benar tidak mampu. Bagian Penerimaan Siswa meloloskan permintaan ibu itu dengan catatan perlu ada peninjauan lokasi. Sang ibu bersedia rumahnya ditinjau, maka ada satu tim yang meluncur ke rumah ibu tersebut. Sesuai alamatnya, ada sebuah rumah yang sangat sederhana, sebagian papan dan tembok, listrik hanya 150 watt, ada satu kulkas kecil, tidak ada ac selain angin dari jendela. Akhirnya tim memutuskan untuk membebaskan biaya uang pembangunan.

Sebelum tim itu pulang, tiba-tiba ada tetangga yang menyapa, “Selamat pagi. Mau mengadakan syukuran ya? Ibu yang tinggal di situ warga baru, ia baru mengontrak rumah itu seminggu lalu. Katanya akan dipakai pegawainya. Dia sendiri sih rumahnya di Kompleks Kapuk Indah. Kita-kita ini tidak mungkin ke sana, ke halamannya aja tidak bisa apalagi masuk ke rumahnya. Penjagaannya ketat sekali. Begitu masuk kompleks, kita diminta KTP yang ditinggal di pos. Kalau tidak bawa KTP, ya tidak boleh masuk,” kata seorang tetangga dengan polos. Mendengar hal itu, tim terperanjat. Setelah mendapat alamat yang pasti, meluncurlah Tim itu ke Kompleks Kapuk Indah. Wow, ternyata ibu tersebut seorang konglomerat yang sangat kaya. Mobil mewahnya berjajar tiga di depan rumah ….

Di zaman seperti ini, apa yang dikatakan Amsal masih relevan, bukan? Kisah itu bukan khayalan. Masih ada orang yang pura-pura miskin dan menyembunyikan kekayaannya. Bukan mau pamer, tetapi supaya tidak dilihat orang bahwa ia orang kaya. Kalau kelihatan kaya, semua orang berbondong-bondong minta bantuan. “Saya senang menerima berkat daripada memberi berkat, senang meminta daripada diminta, senang dikasihi daripada mengasihi,” kata ibu itu dengan enteng. Dalam hidup yang dijalaninya, ia sering bersandiwara jadi orang miskin. Betapa kasihan orang yang demikian? Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *