Khotbah Perjanjian Baru

Bermegah dalam Penderitaan demi Penderitaan

     Kita lanjutkan dengan ayat satu, bagian kedua: kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

Saudara… kita manusia adalah manusia yang berdosa dan kita tahu bahwa kita adalah manusia yang layak mendapatkan kutuk Allah. Kita dimurkai oleh Allah. Kita menjadi seteru Allah. Seperti itulah gambaran kehidupan manusia yang berada di luar Kristus. Maka, kita tidak heran bila saat menghadapi penderitaan dan kesengsaraan, mereka sering kali mengatakan, “Aku mendapatkan kutuk dari Allah… aku dihukum oleh Allah… aku mendapatkan balasan dari Allah.” Namun firman Tuhan saat ini mengatakan, Saudara hidup di dalam damai sejahtera, Saudara berada dalam shalom Allah karena Kristus telah memperdamaikan Saudara dengan Allah. Kita bukan lagi seteru Allah, kita sekarang adalah anak-anak yang dikasihi-Nya. Enak ndak jadi orang Kristen? Enak ya… Puji Tuhan.

 Ayat kedua, Saudara. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini.

Jelas, hidup di luar Kristus adalah hidup dalam dosa. Dan Paulus katakan, upah dosa adalah maut. Upah dosa adalah neraka. Itulah tempat yang sesungguhnya bagi orang yang berdosa. Tapi, perhatikan, Saudara… firman Tuhan katakan: kita beroleh jalan masuk ke dalam kerajaan Allah oleh iman kepada Tuhan Yesus. Pada saat saya merenungkan ayat ini, saya diingatkan oleh Tuhan akan kebenaran ini. Pada suatu hari saya bertemu dengan teman-teman SMP. Setelah kami berbincang-bincang, saya katakan kepada mereka, “Sekarang saya menjadi hamba Tuhan.” Apa komentar teman saya, Saudara? Ada seorang teman yang nyeletuk, “Enak ya rek dadi wong Kristen iku… wis gak lapo-lapo langsung munggah swarga.” Amin. Itulah bagian Saudara dan saya di dalam Kristus. Bahkan bukan hanya itu bagian kita Saudara. Kita lihat di ayat 2 selanjutnya dikatakan: Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Kita seharusnya menghuni tempat yang paling bawah di dunia ini. Itulah ganjaran bagi manusia yang berada di luar Kristus. Tetapi, ayat tadi mengatakan bahwa Saudara akan diangkat ke tempat yang paling tinggi, mendapat kehormatan, mendapatkan kemuliaan Allah di dalam kerajaan-Nya. Wah, enak sekali kita yang sudah ada di dalam Kristus. Namun, apakah hanya itu saja yang menjadi bagian berkat kita?

Mari saya ajak Saudara melihat ayat 3 untuk memperoleh jawabannya.

Ayat itu dimulai dengan kata-kata “Dan bukan hanya itu saja.” Itu artinya, kita tidak hanya dibenarkan di hadapan Allah, kita tidak hanya boleh menikmati damai-sejahtera, kita tidak hanya beroleh jalan masuk ke dalam kerajaan Allah, kita tidak hanya dimuliakan, tetapi—mari kita baca bersama-sama—Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita. Wow! Saudara, empat hal tadi saya katakan sebagai anugerah Tuhan yang luar biasa, sedangkan yang terakhir ini adalah bonusnya. Pada umumnya bonus itu enak, ya Saudara… tapi coba perhatikan bonus kita: kita malah bermegah juga dalam… apa? Kesengsaraan. Pada saat merenungkan kata-kata ini, saya bertanya-tanya: bukankah ini sebuah kontradiksi… tampaknya ndak bisa dilogika dengan pikiran manusia. Wong bermegah kok dalam kesengsaraan. Itu bagaimana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *