Khotbah Perjanjian Baru

Bermegah dalam Penderitaan demi Penderitaan

Kita akan coba pahami supaya kita ngerti dengan sungguh apa yang ingin disampaikan oleh firman Tuhan ini. Apa yang dimaksud dengan bermegah ini? Bermegah atau glory adalah suatu ungkapan atau perasaan di mana seseorang bersuka ria, bersuka cita, bergirang karena sesuatu hal yang begitu dahsyat, luar biasa, indah… yang patut untuk dibanggakan. Misalnya, Saudara menjadi juara pertama, menjadi karyawan terbaik dan saudara berbangga. Inilah yang namanya bermegah. Sekarang, apakah kesengsaraan itu? Kesengsaraan di dalam bahasa aslinya disebut tribulum… apa itu tribulum? Tribulum adalah alat untuk memanen gandum. Terbuat dari papan-papan kayu besar yang dijajar lalu di bawahnya diberi besi-besi atau batu-batu yang lancip. Kalau diperhatikan, besi-besi atau batu-batu di papan itu persis alat dapur, yaitu parut. Jadi, tribulum itu seperti parut raksasa. Untuk memanen gandum, tribulum itu ditarik sapi sedangkan sang petani naik di atasnya. Tribulum akan menggesut sehingga tribulum tadi akan memisahkan gandum-gandum dengan jeraminya. Karena itu, tribulum sering dipakai untuk memberikan gambaran ketika seseorang menghadapi masalah, kesulitan, kesusahan, tekanan, kepedihan, penderitaan dalam hidup ini. Itulah yang namanya tribulum. Itulah kesengsaraan.

Lalu, apa yang bisa dibanggakan dari kesengsaraan?

Kok rasanya tidak ada yang dibanggakan. Saudara pernah bezuk teman atau saudara yang sedang sakit? Bahkan mungkin sakitnya sudah tidak mungkin tertolong lagi. Dokter sudah angkat tangan. Kira-kira, mungkin tidak orang yang sakit itu mengatakan, “Wah… saya bermegah, saya berglori, saya bangga karena sakitku tidak akan bisa sembuh… dan sebentar lagi aku dipanggil Tuhan. Haleluya aku memuji-Mu Tuhan.” Apakah ada orang sakit yang mengatakan seperti itu? Saya pikir ini memang tidak masuk akal. Bahkan, ketika saya membaca dan merenungkan ayat 3 dan ayat 4; kenyataannya adalah kesengsaraan itu menimbulkan kemalasan, kemalasan menimbulkan kegagalan, kegagalan menimbulkan putus asa, dan putus asa menimbulkan… apa Saudara? Bunuh diri! Itulah jalan pikiran manusia. Jalan pikiran Allah ternyata berbeda. Saat ini saya ingin mengajak Saudara memahami jalan pikiran Allah. Karena ini adalah suatu kebenaran yang menakjubkan. Untuk itu, mari kita baca lagi ayat ini: … kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

Ada tiga hal yang diungkapkan dalam ayat-ayat itu.

Pertama, kesengsaraan menimbulkan ketekunan.

Saya ingin menggarisbawahi kata ‘ketekunan’.  Kata ‘ketekunan’ ini bisa digambarkan seperti yang dialami seorang atlet dalam dunia olahraga. Dalam dunia olahraga kita mengenal motto no pain, no gain. Kalau kita ndak mau bersusah-susah, kita ndak akan mendapatkan hasilnya. Saudara, saya pernah menjadi olahragawan. Elek-elek begini dulu saya pernah menjadi atlet. Pada waktu PON XI saya mewakili kontingen Jawa Tengah di cabang lomba layang gantung. Sebelum diberangkatkan ke Jakarta dan bertanding di Puncak Pass Bogor, kami dilatih secara fisik dan mental dengan disiplin yang sangat ketat. Apa yang terjadi pada minggu-minggu pertama, Saudara? Ya ampuuuun… badan ini rasanya capek sekali. Boyok ini rasanya pegel. Kenapa? Karena setiap hari makanannya push up ratusan kali. Setelah push up kami harus pull up. Siang hari di bawah teriknya matahari kami harus berlari mengelilingi lapangan sepak bola ratusan kali. Capek sekali! Itu minggu-minggu pertama. Tapi, pada minggu-minggu berikutnya, rasanya badan ini sudah ndak capek lagi. Walaupun latihannya semakin diperberat, tetapi badan ini malahan rasanya semakin segar, sehat, dan kuat. Apa ini artinya? Stamina atau kekuatan tubuh saya semakin baik. Itulah yang sesungguhnya dikatakan oleh Paulus bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan. Ketekunan berlatih inilah yang menghasilkan stamina bagi setiap atlet. Tanpa stamina yang prima, tak seorang atlet pun siap bertanding. Dengan kata lain, dengan stamina ini setiap atlet siap bertanding. Kalau ada atlet mengatakan, “Aduh, saya ndak siap bertanding… boyokku pegel!” Ini bukan atlet, Saudara. Setiap atlet harus siap bertanding dan memenangkan pertandingan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *