Khotbah Perjanjian Baru

Bermegah dalam Penderitaan demi Penderitaan

Nah, kita sekarang bisa mengerti mengapa Paulus mengatakan kita bermegah dalam kesengsaraan. Kenapa, Saudara? Karena dengan kesengsaraan itu sebetulnya kita sedang dilatih oleh ‘Pelatih Surgawi’ kita untuk menjadi atlet-atlet Kerajaan Allah yang siap memenangkan pertandingan dalam hidup ini. Bukankah itu membawa kebanggaan? Kalau atlet-atlet dunia ini menang dalam pertandingan, pasti akan membuat bangga orang tua dan keluarganya, pelatihnya, bahkan daerah atau negara yang diwakilinya pun pasti bangga. Lihat bagaimana mereka yang dapat medali di arak mengelilingi kota sebagai wujud kebanggaan kota dan negaranya. Semua orang bangga atas kemenangannya. Apalagi keluarga surgawi, Pelatih Surgawi, dan seluruh warga Kerajaan Allah pasti bangga dengan kemenangan kita dalam pertandingan hidup di dunia ini. Itulah yang namanya bermegah dalam kesengsaraan, Saudara.

Berikutnya yang kedua: ketekunan menimbulkan tahan uji.

Kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji. Kalau yang pertama tadi kita diajar dengan menggunakan analogi dunia olahraga, yang kedua ini kita diajar dengan menggunakan analogi dari dunia pendidikan.  Tahan uji itu bisa disebut juga sebagai ujian yang selalu kita temukan dalam dunia pendidikan.  Ujian akan menjadi pintu kenaikan tingkat. Karena itu, ketika sekolah mau tidak mau kita harus menghadapi ujian. Bahkan untuk menghadapi ujian itu kita belajar keras. Saya kira tidak ada orangtua yang mengatakan, “Wis, Nak… ndak usah belajar. Kamu pinter atau bodo ndak apa-apa, sak karepmu!” (menunjukkan foto suasana belajar tetapi para siswanya ada yang tidur di lantai, tiduran di kursi, tidur di meja, asyik ngobrol). Kalau Anda jadi guru, apa kira-kira perasaan Saudara bila murid-murid Saudara seperti ini? Malu… pasti malu. Karena itu kita juga percaya bahwa Guru Agung kita di surga juga akan malu bila kita sebagai murid-murid-Nya juga seperti itu. Inilah yang menjadi jalan pikiran Allah: bila engkau berada dalam kesengsaraan, engkau sedang berada dalam didikan Allah… dan engkau akan naik tingkat demi tingkat… setinggi-tingginya sehingga engkau semakin dekat dengan Tuhan. Dengan demikian, pada saatnya nanti Saudara akan diwisuda… engkau lulus. Kalau seorang murid lulus pasti akan membanggakan guru dan orang tuanya. Demikian juga dengan Guru Agung kita pun akan bangga, bermegah. Ini lho murid-murid-Ku yang Aku banggakan. Pastinya, Bapa surgawi pun akan bangga punya anak-anak yang pandai.

Yang ketiga: tahan uji menimbulkan pengharapan.

Kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Apa itu pengharapan? Ada yang tahu, Saudara? Saya percaya semua Saudara yang ada di sini punya pengharapan dan sebenarnya tahu apa itu pengharapan. Saya juga tidak akan menerangkan definisi atau pengertian tentang pengharapan, karena Tuhan sendiri sudah membuat definisi dan menerangkan apa itu pengharapan. Dan, uniknya pengharapan ini diambil dari analogi dunia kemaritiman. Mari kita lihat Ibrani pasal 6 ayat 19 dan ayat 20.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *