Khotbah Perjanjian Baru

Bermegah dalam Penderitaan demi Penderitaan

Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar, sampai selama-lamanya.   

Saudara perhatikan ayat ke-19. Tuhan katakan, apa itu pengharapan? Iya. Pengharapan adalah sauh. Sauh itu apa? Sauh adalah jangkar. Jangkar itu ada di mana? Ada di kapal. Kapal ada di mana? Ada di laut. Pertanyaan berikutnya, apa fungsi jangkar? Ada yang tahu? Mosok deket laut gak ngerti rek… Ya, jangkar berfungsi untuk menahan kapal dari arus atau ombak. Kalau Saudara lihat di Tanjung Perak, ketika kapal berlabuh jangkar akan digunakan. Jangkar itu untuk markir kapal di dermaga. Tapi, ketika kapal di tengah laut dan diterpa badai, jangkar itu juga harus diturunkan. Supaya apa? Supaya stabil. Supaya aman. Nah, waktu mau dilabuhkan, jangkar itu oleh awak kapal dilabuhkan ke atas atau ke bawah, Saudara? Ke bawah.

Itulah jangkar atau pengharapan dunia ini. Jangkar atau pengharapan di dunia ini dilabuhkan ke bawah. Apa artinya? Jangkar atau pengharapan itu dilabuhkan pada uang, harta, kekayaan, pangkat, kepandaian, dan kesenangan dunia ini. Itulah jangkar atau pengharapan dunia. Apakah Saudara juga melabuhkan jangkar atau harapan Saudara ke bawah seperti itu? Bila seperti itu, tambatan Saudara tidak kuat, tidak aman. Bila Saudara melabuhkan pengharapan Anda pada hal-hal duniawi, Saudara bisa mengalami apa yang sebut S3. Stress, Stroke, Stop. Itu yang sering terjadi. Hati-hati, Saudara.

Nah, coba sekarang perhatikan firman Tuhan… apa yang Tuhan katakan. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir. Inilah jangkar anak Tuhan. Jangkar anak Tuhan bukan dilabuhkan ke bawah, tetapi ke atas. Dilabuhkan sampai ke belakang tabir di tempat di mana sekarang Tuhan Yesus berada sebagai Imam Besar kita. Beda, ya? Dengan jangkar kita dilabuhkan ke atas, kita akan kuat menghadapi badai kehidupan dunia ini. Kita akan tetap aman di tengah laut kehidupan yang bergelora. Di tengah-tengah kesengsaraan ada kepastian akan pengharapan kita di dalam Tuhan Yesus. Pengharapan yang seperti inilah yang tidak pernah mengecewakan kita.

Ya, pengharapan ini tidak mengecewakan. Pengharapan ini bukanlah pengharapan yang menipu kita. Seperti kekecewaan, rasa malu, dan kebingungan yang tak henti-hentinya akan ditimbulkan oleh hancurnya pengharapan orang fasik, tetapi harapan orang benar akan menjadi sukacita (Amsal 10:28). Saudara, kesengsaraan kita tidak akan mempermalukan kita. Walaupun kita disamakan dengan kotoran dari segala sesuatu dan diinjak-injak seperti lumpur di jalan, tetapi dengan memiliki pengharapan akan kemuliaan, kita tidak dipermalukan dengan semua penderitaan ini. Kesengsaraan kita adalah untuk perkara yang baik, karena Tuhan yang baik, dan dalam pengharapan yang baik. Itulah sebabnya kita tidak akan menjadi malu. Kita tidak akan pernah menganggap diri kita hina oleh kesengsaraan yang akan berakhir dengan demikian indah. Kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *